
haha…
waste hanya bersumber pada
artikel-artikel di internet (yang tentunya berasal dari sumber yang kredibel dan
valid) serta dokumenter-dokumenternya Discovery Channel dan National
Geographic. Kupikir zero waste ini adalah bahasan yang menarik
untuk disimak, karena sebelumnya aku tidak pernah mengira bahwa impact (dari zero waste) sangat besar pada kehidupan ini.
semacam zero waste adalah Discovery Channel dan National geographic. Agak miris memang, disaat orang-orang di pinggiran
Brazil sedang dalam masa peralihan dari kompor berbahan gas ke kompor berbahan
limbah dan memikirkan sumber energi terbarukan (sustainable energy) yang
bisa didapatkan secara cuma-cuma dari alam kita masih bergumul dengan masalah
sosial, tapi begitulah… negara berkembang 😶.
ngalor-ngidul dengan dosen di siang bolong.
dalam perencanaan desain adalah konsep pelenyapan alias how to destroy. Apakah produk
tersebut bisa lenyap dengan sendirinya? Apakah produk tersebut bisa didaur
ulang? Apakah produk tersebut bisa didaur ulang hanya pada bagian-bagian
tertentu? Apakah produk tersebut tidak bisa didaur ulang sama sekali? Semacam
begitulah… Yang jelas, mahasiswa desain produk kalau ditanya beginian pas
presentasi pasti kelabakan 😓.
melenyapkan. From nothing to something
then to nothing (again). Kenyatannya, kebanyakan produk diciptakan hanya
untuk digunakan namun tidak untuk dilenyapkan. Disini aku tidak menyalahkan
produsen atau desainer, namun setidaknya perlu ada upaya pertanggungjawaban
dari kita semua baik sebagai produsen atau sebagai pengguna. Beberapa produsen
sudah menerapkan zero waste.
kemarin sore ya, sudah lama ada namun movement-nya
baru hype belakangan ini. Thanks to social media yang menyajikan dengan yang lebih fun.
keseharian, aku menemukannya pada @atiit yang pernah menjadi kontributor di LivingLoving, meski kontennya nggak banyak seru aja baca blognya. Kemudian aku
menemukan The Journal of Me yang juga merangkap sebagai kontributornya www.sustaination.id yang aktif
mengajak ber-zero waste via @sustaination Kemudian ada Maurilla Imron
kontributornya zerowaste.id yang juga aktif mengajak ber-zero waste ria via @zerowasteid. Bisa dicek juga IGnya @rarasekar.
adalah ide yang menarik yakni bagaimana kita menanam sendiri makanan yang akan
kita makan, lebih terjamin dan hemat tentunya. Untuk yang senang bercocok
tanam, bisa menumbuhkan Wortel atau Sawi di grow
bed pastilah menyenangkan, eh bisa dicoba
juga nih membuat microenzym. Tahukah
kamu? Yang pertama kali terpikirkan saat membaca tentang grow your (own) food
adalah… film Cast Away To The Moon wkwkwk 😂😂😂
waste juga butuh biaya 😉.
stainless, pouch belanjaan atau toples-kecil-kurang-penting-tapi-instagenic, semuanya disajikan dengan
cara yang menarik. Ternyata, selain digiring untuk ber-zero waste kita juga digiring untuk berbelanja haha Padahal kupikir,
zero waste akan lebih tepat kalau zero
cost juga. Well … yha~ 😏nggak salah juga sih namanya juga usaha *heu 😟 Nah,
disini balik lagi ke diri masing-masing kalau nggak (terlalu) perlu lebih baik memanfaatkan
yang sudah ada. Jangan malah jadi; zero
waste yang nggak zero cost. Kan asyeemm
… 😳
waste ini, mamaku bilang “semuanya
nanti kembali lagi ke zaman dulu”. Eh, iya ya … dulu, hampir setiap rumah
memiliki apotik hidup atau tanaman rempah-rempah, pohon buah-buahan, guruku
bahkan ada yang menanam jagung di halaman rumahnya. Pasti ingat dong, kalau mau
beli bubur atau soto kita pasti bawa mangkok atau rantang sendiri, begitu pun
kalau ke pasar pasti bawa keranjang sendiri. Atas nama kepraktisan dan kehigienisan
kantong plastik hadir merubah lifestyle.
skill yang harus dikuasai. Kalau
pernah menonton dokumenter Natgeo ada orang-orang di Amerika sana yang bersiap
menghadapi masa depan. Mereka percaya bahwa di masa depan Amerika akan jatuh
dan chaos yang berakibat pada
langkanya sumber daya dan produk industri, mereka membeli emas dan perak karena
percaya bahwa di masa depan dollar tak kan berarti, menimbun makanan dan
logistik seperti pakaian, peralatan dan survival
kit di dalam kontainer yang dirubah
menjadi bunker. Serius deh ini…
berasa menonton persiapan menuju The Walking Dead 💀.
belajar mengolahnya agar awet. Mereka percaya bahwa di masa depan bercocok
tanam adalah skill yang wajib
dimiliki. Begitu pun dengan keterampilan semacam berburu, berenang dan pertukangan,
sudah sepaket ya dengan keterampilan memperbaiki atau memanfaatkan
barang-barang (DIY). Hal–hal semacam : kehidupan baru setelah
perang nuklir, law of the
jungle atau doomsday adalah hal yang mereka yakini akan terjadi. Yha~ kita
nggak pernah tahu kan apa yang akan terjadi di masa depan…
waste hanyalah tren musiman seperti
halnya tren shabby chic di kalangan mamak-mamak masa kini,
tak sedikit pula yang menganggap zero
waste adalah gaya hidup positif yang
layak dipertahankan. Aku sih setuju, karena impact
dari zero waste bukan hanya tentang soal bagaimana kita mereduce dan merecycle sampah tapi juga soal bagaimana kita membangun mindset tentang partisipasi (kita) untuk
sustainable life circle.
ya, terlebih lagi kita tinggal dan hidup di lingkungan
berkategori negara berkembang, yang berarti (masih) memproduksi sampah secara
aktif dengan tingkat daur ulang yang (masih) rendah. Maka dari itu dibutuhkan
komitmen serta konsistensi, dan jangan jauh-jauh dulu lah ya… mulailah dari
diri sendiri. Kalau belum sanggup untuk zero waste mungkin bisa dicoba dulu less wastenya,
kupikir less waste lebih bisa diterapkan dalam keseharian ketimbang zero waste.
remeh temeh namun ternyata berpengaruh besar, small action big impact.
Untuk saat ini aku baru mampu menerapkan sebagian kecil dari konsep less waste menuju zero waste dalam kehidupan sehari-hari, well… tak ada salahnya mencoba bukan?
Semoga bisa berlanjut yha~
Lestari’s less waste to zero waste progress (update recently)
Membuang sampah pada tempatnya
Dan menyimpannya di dalam tas atau saku sebelum menemukan tempat sampah.
(sudah berusaha) dilakukan sejak: SD karena kebersihan sebagian dari iman.
diusahakan untuk mendahulukan kualitas ketimbang kuantitas. Memang ya ada rupa ada harga, namun aku nggak menganggap ini sebagai
pemborosan karena sesungguhnya boros adalah over
budget, aku menganggapnya sebagai investment dan nggak khawatir
dengan tren karena tren terus berputar.
school karena keterbatasan space penyimpanan.
Selektif ber-DIY
Aku suka ber-DIY, dan salah satu resiko ber-DIY yang paling sulit diabaikan adalah banyaknya sampah hasil eksperimen dan kenyataan bahwa sebagian besar produk DIY bersifat tentatif alias tidak dibuat untuk jangka panjang. Sebagian hasil DIY disimpan untuk dokumentasi proses kreatif sedang sebagian lagi dioptimalkan, yakni terus diproses dan dikembangkan demi meminimalisir sisa sampah.

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.