Cerita Seks Membahagiakan Mbak Nita Istri Tetanggaku
![]() |
| Cerita Seks Membahagiakan Mbak Nita Istri Tetanggaku |
Berita Terkini – Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan
pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau
“melihat” tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Arif dan Mbak Nita
sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi
terus, kulihat Mas Arif hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nita yang hanya
memakai baju dalam.
pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau
“melihat” tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Arif dan Mbak Nita
sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi
terus, kulihat Mas Arif hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nita yang hanya
memakai baju dalam.
“Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?”
pikirku mulai tak sabaran.
pikirku mulai tak sabaran.
Kulihat Mas Arif dan Mbak Nita berbicara sambil berpelukan,
aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nita tertawa
cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nita.
aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nita tertawa
cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nita.
Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi
juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nita,
menyuruh Mbak Nita memegang penis Mas Arif. Mbak Nita kelihatannya menurut dan
memasukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah
ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nita menolak.
juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nita,
menyuruh Mbak Nita memegang penis Mas Arif. Mbak Nita kelihatannya menurut dan
memasukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah
ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nita menolak.
“Yaaa….. itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke”
desahku dalam hati kecewa.
desahku dalam hati kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif
tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya
bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nita. Aku
tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya
akan terpenuhi.
tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya
bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nita. Aku
tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya
akan terpenuhi.
Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nitapun mulai
melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nita hanya bersinglet dan
bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.
melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nita hanya bersinglet dan
bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.
Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana
dalamnya.
dalamnya.
“Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati
melihat penis Mas Arif.
melihat penis Mas Arif.
Mas Arifpun langsung meng-himpit Mbak Nita, tampaknya Mas
Arif akan mempenetrasi Mbak Nita. Kulihat Mbak Nita memelorotkan celana
dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif
memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nita yang tertutup bulu jembut.
Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nita, Mas Arif
langsung memeluk Mbak Nita sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup
lama.
Arif akan mempenetrasi Mbak Nita. Kulihat Mbak Nita memelorotkan celana
dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif
memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nita yang tertutup bulu jembut.
Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nita, Mas Arif
langsung memeluk Mbak Nita sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup
lama.
Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan
genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nita.
genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nita.
“Waaah…..ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama,
nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.
nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.
Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut
melakukan “tumpangsari” pada Mbak Nita.
melakukan “tumpangsari” pada Mbak Nita.
Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat
singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nita tetap bisa mencapai
orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan
di muka Mbak Nita, meski Mbak Nita berusaha tersenyum setelah “permainan” itu,
tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.
singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nita tetap bisa mencapai
orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan
di muka Mbak Nita, meski Mbak Nita berusaha tersenyum setelah “permainan” itu,
tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.
Peristiwa “observasi awal” hari kemarin itu membuatku
mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nita dan merasakan
nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nita !
mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nita dan merasakan
nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nita !
Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Arif itu
belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari
Mbak Nita. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.
belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari
Mbak Nita. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.
Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,
“Hai Rudi, apa kabar ?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.
“Baik“ jawabku sambil ter-senyum.
“Silahkan duduk”
Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku
mulai mengajukan permintaan,
mulai mengajukan permintaan,
“Ton, aku butuh bantuanmu”
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”
“Aku butuh pekerjaan”
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?”
“Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk
orang lain”
orang lain”
“Hm memangnya untuk siapa ?”
“Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana
saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya”
saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya”
“Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa”
“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali”
“Oke, baik kalau gitu”
“Tapi…nanti jadwal wawanca-ranya aku yang tentuin”
“Terserah kamu”
Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa,
hari rabu sampai jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.
hari rabu sampai jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.
Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah
terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nita itu.
terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nita itu.
Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas
Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.
Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.
“Mas…….saya ingin bicara se-bentar” kataku mulai membuka
percakapan.
percakapan.
Mas Arifpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa Rudi ?”
“Begini…….saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan
tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas
menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang
lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut
tawaranku ditolak.
tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas
menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang
lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut
tawaranku ditolak.
Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu
“Hmmm….saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!”
“Ya Mas” kataku dengan senyuman.
Dalam hatiku, aku berpikir “Habislah sudah kesempatanku !”
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang
tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek
mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun
cepat-cepat membuka pintu
tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek
mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun
cepat-cepat membuka pintu
“Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja” Mas Arif
tiba-tiba permisi.
tiba-tiba permisi.
“Eee….nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih” kataku
berusaha mencegah Mas Arif pergi.
berusaha mencegah Mas Arif pergi.
“Gangguin tidur kamu nggak ?”
“Ndak…ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.
Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
“Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu,
tempatnya di mana sih ?” Mas Arif bertanya.
tempatnya di mana sih ?” Mas Arif bertanya.
“Ooo…itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya ***,
nggak jauh kok”
nggak jauh kok”
“Syaratnya gimana ?”
“Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana.
temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Rudii”
temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Rudii”
“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja” Mas
Arif sepertinya keberatan.
Arif sepertinya keberatan.
“Enggak….nggak… koq, perusahaannya besar, Mas ke sana juga
belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meya-kinkan Mas Arif.
belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meya-kinkan Mas Arif.
“Hmmm…baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?”
“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja” kataku
me-nyarankan.
me-nyarankan.
Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak
lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi
keinginanku tercapai.
lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi
keinginanku tercapai.
Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Arif pagi-pagi
sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.
Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.
“Wa’alaikumussalam” terdengar jawaban Mas Arif dari dalam
kamarnya.
kamarnya.
Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku un-tuk
masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat
tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nita tampak cantik
sekali.
masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat
tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nita tampak cantik
sekali.
“Bagaimana Mas, tadi ?” ta-nyaku
“Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test
wawancara”
wawancara”
“Alhamdulillah, tak do’ain supa-ya berhasil”
“Terima kasih”
Setelah berbasa – basi cukup lama, akupun permisi.
“Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum” Mas Arif berusaha
mencegahku.
mencegahku.
“Ayo Nita buatkan air minumnya dong” perintah Mas Arif
me-nyuruh istrinya, Mbak Nita.
me-nyuruh istrinya, Mbak Nita.
Aku menolak dengan halus,
“Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan”
“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya”
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nita tidak jadi
membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi “adikku”
akan bersarang dan me-nemukan pasangannya.
membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi “adikku”
akan bersarang dan me-nemukan pasangannya.
Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan
Mbak Nita sendirian di kamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar
beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling
bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah
jambu.
Mbak Nita sendirian di kamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar
beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling
bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah
jambu.
Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke
kamar tetanggaku, mengetuk pintu,
kamar tetanggaku, mengetuk pintu,
“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.
Lama baru terdengar jawaban,
“Wa’alaikumussalam” jawaban Mbak Nita dari dalam kamar itu.
Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nita melongokkan kepalanya
yang berjilbab itu dari celah pintu,
yang berjilbab itu dari celah pintu,
“Ada apa ya ?” tanyanya.
“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin
tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.
“Oh, baiklah” kata Mbak Nita sambil bermaksud mengambil
bungkusan di tanganku itu.
bungkusan di tanganku itu.
“Eee…tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa
bisa muter nggak di komputernya Mas Arif” kataku mengarang alasan.
bisa muter nggak di komputernya Mas Arif” kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nita
mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang
komputer.
mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang
komputer.
Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan
mengope-rasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan
kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.
mengope-rasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan
kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.
“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Mbak Nita yang
sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
“Film apa sih ?” tanya Mbak Nita kepadaku.
“Pokoknya bagus” jawabku sambil kemudian memberikan
pe-tunjuk bagi Mbak Nita , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan
komputernya.
pe-tunjuk bagi Mbak Nita , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan
komputernya.
Mbak Nita hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi
mumpung filmnya belum masuk ke bagian “intinya”.
mumpung filmnya belum masuk ke bagian “intinya”.
Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas
ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nita.
ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nita.
Setelah di kamarku. melalui ven-tilasi kulihat Mbak Nita
menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno
langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno
langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.
Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nita
masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nita menyukainya.
masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nita menyukainya.
Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan
Mbak Nita pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
Mbak Nita pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
“Hhh…..hhhh….oohhh…..oohhh”suara Mbak Nita mendesah–desah ,
tampaknya merasakan kenikmatan.
tampaknya merasakan kenikmatan.
Aku kaget,
“Wah….hebat….dia masturbasi” kataku dalam hati.
Ingin aku masuk ke kamar Mbak Nita, memeluknya dan langsung
menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan
berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan
memain-mainkan penisku.
berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan
memain-mainkan penisku.
Film di komputer itu terus berjalan…… hingga telah hampir
1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nita kulihat sudah empat
kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nita ternyata masih
me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nita kulihat sudah empat
kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nita ternyata masih
me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.
“Akkkhhhhhhh………” Mbak Nita terpekik pelan menandai
orgasmenya.
orgasmenya.
Sesaat setelah orgasme Mbak Nita yang kelima akupun
ejakulasi.
ejakulasi.
“Oooorghhhh………” suara berat-ku mengiringi luapan sperma di
tanganku.
tanganku.
Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif
dan bisa memuaskan Mbak Nita nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi
bersamaan.
dan bisa memuaskan Mbak Nita nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi
bersamaan.
Kemudian Mbak Nita sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan
Vcdnya dan mematikan komputer.
Vcdnya dan mematikan komputer.
Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit
berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau
– kalau Mbak Nita ngomong macam – macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !
berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau
– kalau Mbak Nita ngomong macam – macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !
Tetapi lama…..kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku
me-ngintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.
me-ngintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.
Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Nita
dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif,
mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya
berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nita kelihatan tidak menikmati dan
tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nita seringkali kesakitan
ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif,
mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya
berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nita kelihatan tidak menikmati dan
tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nita seringkali kesakitan
ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.
“Ah…Mas Arif nggak pandai merangsang sih”, pikirku.
Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat
Mbak Nita tidak bisa lagi men-capai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nita
akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara
menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.
Mbak Nita tidak bisa lagi men-capai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nita
akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara
menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.
Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan
segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah
bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Nita dan Mas Arif seharian, mereka
kemarin ber-setubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang
penting bagiku, Mbak Nita tidak bisa orgasme.
segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah
bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Nita dan Mas Arif seharian, mereka
kemarin ber-setubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang
penting bagiku, Mbak Nita tidak bisa orgasme.
Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum
se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.
se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.
Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin,
parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah
disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku,
Mbak Nita yang sedang sendirian.
parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah
disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku,
Mbak Nita yang sedang sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,
“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.
“Wa’alaikumussalam” suara lem-but Mbak Nita menyahut dari
dalam kamar.
dalam kamar.
Mbak Nitapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan
pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu
yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu
yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
“Oh ya, saya lupa membe-ritahukan cara menghidupkan Vcd
kemarin” kataku sambil tersenyum.
kemarin” kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba raut muka Mbak Nita menjadi sangat serius,
“Kamu kurang ajar ya, masa’ ngasiin Vcd porno gituan ke
Mbak” kata Mbak Nita sedikit keras.
Mbak” kata Mbak Nita sedikit keras.
Aku kaget, “ternyata ia marah”, pikirku. Lalu cepat aku
mengarang alasan,
mengarang alasan,
“Oh ma’af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal
riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma’af kalau tertukar, yah saya ambil
saja lagi”
riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma’af kalau tertukar, yah saya ambil
saja lagi”
Mbak Nita masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku
senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya
melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya
melalui pintu yang sedari tadi terbuka.
Mbak Nita kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
“Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?!”
Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,
“Alaa….Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd
porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”
porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”
“Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan
berteriak” bentak Mbak Nita.
berteriak” bentak Mbak Nita.
“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak
menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan” kataku
sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.
menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan” kataku
sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.
Mbak Nita terkejut,
“Kamu…..”
Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,
“Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Nita, saya
jamin Mbak Nita bisa orgasme bila main dengan saya”
jamin Mbak Nita bisa orgasme bila main dengan saya”
“Kurang ajar ! Keluar kamu !”
“Eeee….tidak segampang itu, ayolah Mbak Nita jangan marah,
pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nita tidak me-makai
saya, seumur-umur Mbak Nita nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai
meng-hasutnya.
pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nita tidak me-makai
saya, seumur-umur Mbak Nita nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai
meng-hasutnya.
Mbak Nita terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai
termakan rayuanku, tapi…
termakan rayuanku, tapi…
“Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !”
Aku gemetar, tapi tetap ber-usaha,
“Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang
mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak
tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !” kataku sedikit tegas.
mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak
tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !” kataku sedikit tegas.
Lama kulihat Mbak Nita terdiam, bahkan dia kini terduduk
lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…
lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…
“Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya
itu cuma kasihan ngelihat Mbak !” kataku sambil beranjak pergi.
itu cuma kasihan ngelihat Mbak !” kataku sambil beranjak pergi.
Tetapi kulihat Mbak Nita hanya diam terduduk di ranjangnya,
aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci
dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nita, kulihat ia menangis,
aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci
dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nita, kulihat ia menangis,
“Mbak….jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun
menyakiti Mbak” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.
menyakiti Mbak” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.
Lalu pelan-pelan kupegang pun-dak Mbak Nita dan kudorong
pelan dia agar berbaring di ranjang. Ter-nyata Mbak Nita hanya menurut saja,
aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.
pelan dia agar berbaring di ranjang. Ter-nyata Mbak Nita hanya menurut saja,
aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.
Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia
tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan
tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung
jariku menuju ke tengah “lubang” birahinya. Aku sudah terburu nafsu,
mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.
tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan
tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung
jariku menuju ke tengah “lubang” birahinya. Aku sudah terburu nafsu,
mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.
“Akhhh…..akhhh…….ahhhhhh” desahan Mbak Nita mengiringi
setiap tusukan jemariku.
setiap tusukan jemariku.
Aku ingin membuatnya terang-sang dan mencapai orgasme. Lalu
dengan cepat kutarik celana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya
yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi,
menjilat paha putih Mbak Nita dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nita
yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.
dengan cepat kutarik celana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya
yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi,
menjilat paha putih Mbak Nita dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nita
yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.
Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,
“Elmm…..mmmm…….emmmm” dan lidahku menari-nari di atasnya,
terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
“Akhh….ooohhhh……aaahhhhh” suara Mbak Nita mendesah kuat
tanda terangsang.
tanda terangsang.
Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Mbak Nita
dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah
jambu itu.
dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah
jambu itu.
Perlahan kubimbing Mbak Nita mencapai puncaknya, hingga
akhirnya……
akhirnya……
“Aaaaaaakkkhhhhhh…………” pekikan pelan Mbak Nita mengiringi
orgasmenya.
orgasmenya.
Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi
karena cairan vagina Mbak Nita yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium
bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.
karena cairan vagina Mbak Nita yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium
bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.
Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nita
mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah
memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,
mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah
memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,
“Ahhh….ahhhh….yaah…..yaahh” suara Mbak Nita mulai meracau.
Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nita,
tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nita, dengan cepat tangan kananku
merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nita
yang indah membukit.
tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nita, dengan cepat tangan kananku
merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nita
yang indah membukit.
Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan
kananku meremas payudara Mbak Nita bergantian,
kananku meremas payudara Mbak Nita bergantian,
“Slurrpp….slrrrrpp…..slluuurpp” aku menghisap puting Mbak Nita,
sementara desahan Mbak Nita terdengar halus di telingaku,
sementara desahan Mbak Nita terdengar halus di telingaku,
“Akhh….teruuss…..teruuusss” Sementara tangan kiriku tetap
beraksi di vagina Mbak Nita, dan vagina itu semakin becek,
beraksi di vagina Mbak Nita, dan vagina itu semakin becek,
“Crrtt…..crrtt……slrrpp”
Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nita
yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu
dalam-dalam, Mbak Nita sedikit kaget,
yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu
dalam-dalam, Mbak Nita sedikit kaget,
“Ohhh….oomlmmm…elmmmm” Mbak Nita tidak bisa lagi bersuara,
karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang
menari-nari.
karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang
menari-nari.
Aku memang berusaha mem-bimbing Mbak Nita agar orgasme untuk
kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku,
mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena
ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.
kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku,
mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena
ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.
Sambil mencium dan merang-sang pepek Mbak Nita, tangan
kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke
lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke
lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.
Lama akhirnya Mbak Nita mencapai orgasmenya yang kedua kali,
“Ooorrggghhhhh………..”
Mbak Nita mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku
langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.
langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.
“Aaaaaahhhhh…………” suara Mbak Nita terpekik, matanya
sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.
sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.
Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha
Mbak Nita dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan
lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
Mbak Nita dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan
lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
“Sllrrttt…cccrrttt….ccrrplpp” suara becek itu terus
berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
“Akhhh….yaaahh…terus…” suara desahan Mbak Nita keenakan.
Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di
pundakku, pinggul Mbak Nita sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku
ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya,
tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nita yang indah, sambil menggenjot aku
membelai rambut hitam itu.
Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di
pundakku, pinggul Mbak Nita sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku
ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya,
tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nita yang indah, sambil menggenjot aku
membelai rambut hitam itu.
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhh……..hhhh”
Suara desahanku dan Mbak Nita terus terdengar bergantian
seperti irama musik alam yang indah.
seperti irama musik alam yang indah.
Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nita, badannya
kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan,
sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.
kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan,
sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Mbak Nita, membantunya badannya
untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan
segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua.
Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan
menciumnya ber-gantian.
untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan
segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua.
Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan
menciumnya ber-gantian.
Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama…..
“Oooohhhhhhh……………..” lenguhan panjang Mbak Nita menandai
orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan
itu terjadi.
orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan
itu terjadi.
Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan
akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium
mesra bibir Mbak Nita dan Mbak Nita juga menyambut ciumanku, jadilah kami
saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.
akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium
mesra bibir Mbak Nita dan Mbak Nita juga menyambut ciumanku, jadilah kami
saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.
Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nita
ternyata menangis !
ternyata menangis !
“Kenapa Mbak Nita ? saya menyakiti Mbak ya ?!” tanyaku
lembut penuh sesal.
lembut penuh sesal.
Masih terisak, Mbak Nita menjawab,
“Ah…..nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia”
Kami berdua tersenyum, kemudian pelan aku baringkan Mbak Nita.
Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.
Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.
Sambil meremas kedua payudaranya, aku membolak-balikkan
badan Mbak Nita ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
badan Mbak Nita ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
“Ahhh…..ahhh….aaahhh”
“Ohhh……ohhhh……..hhhh”
Terus….lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku
menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.
menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.
Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Mbak Nita. Untuk itu
aku memeluk Mbak Nita, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku
berhasil karena perlahan Mbak Nita kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.
aku memeluk Mbak Nita, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku
berhasil karena perlahan Mbak Nita kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.
Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Nita,
“Tahan……tahan………Mbak, kita lakukan bersama-sama ya”
“Ohhh…ohhh….ohhhh…..aku su-dah tak tahan lagi” desah Mbak Nita,
kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.
“Pelan…..pelan saja Mbak, kita lakukan serentak” kataku
membisik sambil kupelankan tusukan penisku.
membisik sambil kupelankan tusukan penisku.
Akhirnya yang kuinginkan ter-jadi, urat-urat syarafku
menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku
berulang-ulang dengan cepat.
menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku
berulang-ulang dengan cepat.
“Akhhh….ooohhh….ohhh” suara Mbak Nita mendesah. Kepalanya
tersentak-sentak karena dorongan penisku.
tersentak-sentak karena dorongan penisku.
“Lepaskan…..lepaskan……Mbak, sekarang !” suaraku mengiringi
de-sahan Mbak Nita, Mbak Nita menuruti “saranku”, diapun akhirnya mele-paskan
orgasmenya,
de-sahan Mbak Nita, Mbak Nita menuruti “saranku”, diapun akhirnya mele-paskan
orgasmenya,
“Aaaakkhhhhh…………”
“Ooorggghhhhh………” suara be-rat menandakan ejakulasiku,
meng-iringi orgasme Mbak Nita. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu
kulakukan.
meng-iringi orgasme Mbak Nita. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu
kulakukan.
Setelah “permainan” itu, dalam keadaan bugil aku tiduran
ter-lentang di samping Mbak Nita yang juga telanjang. Mbak Nita me-melukku dan
mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,
ter-lentang di samping Mbak Nita yang juga telanjang. Mbak Nita me-melukku dan
mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,
“Terima kasih Rudi”
Mbak Nita kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur
di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih.
Aku sedih dan menyesal melakukan ini dengan Mbak Nita, aku takut ia tidak akan
pernah lagi mencapai orgasme selain dengan diriku, ini berarti aku yang harus
selalu memuaskan Mbak Nita.
di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih.
Aku sedih dan menyesal melakukan ini dengan Mbak Nita, aku takut ia tidak akan
pernah lagi mencapai orgasme selain dengan diriku, ini berarti aku yang harus
selalu memuaskan Mbak Nita.
