
Status sosial
seseorang bisa dilihat berdasarkan akun sosial medianya, semakin keren akun
sosial medianya maka akan semakin keren pula hidupnya, setidaknya itulah yang
memotivasiku untuk jadi social media
junker. Berbagai macam social media pernah aku sambangi, dari yang sedang hype sampai yang ecek-ecek.
seseorang bisa dilihat berdasarkan akun sosial medianya, semakin keren akun
sosial medianya maka akan semakin keren pula hidupnya, setidaknya itulah yang
memotivasiku untuk jadi social media
junker. Berbagai macam social media pernah aku sambangi, dari yang sedang hype sampai yang ecek-ecek.
Katakanlah
Friendster, Facebook, Fupei, Plurk, Temanster (serius … ini pernah ada),
Zello, Twitter, E-Buddy, Path dan lain-lainnya yang aku lupa namanya pernah oprek.
Mau penting atau nggak harus punya akunnya, I
want peoples know I was there.
Friendster, Facebook, Fupei, Plurk, Temanster (serius … ini pernah ada),
Zello, Twitter, E-Buddy, Path dan lain-lainnya yang aku lupa namanya pernah oprek.
Mau penting atau nggak harus punya akunnya, I
want peoples know I was there.
Tapi itu dulu
ya … Sebelum akhirnya aku sendiri gerah.
ya … Sebelum akhirnya aku sendiri gerah.
Salah seorang
temanku, yang aku follow akun
Twiternya dengan tulus ternyata tidak pernah follback.
Well … mungkin
ia sibuk atau nggak ‘ngeh’ dengan user name
yang aku pakai. Itu hal yang biasa kan? Yang tidak biasa adalah dia juga tidak follback teman-temanku sekalian,
satu-satunya teman seangkatan yang difollback
olehnya adalah mantan kecengannya.
Kecengan yang sebenarnya nggak
ngecengin dia *sigh
Kelihatannya
receh banget ya bete gara-gara nggak difollback. But give me a reason why you should to choose for not follback me.
Mungkin dia gengsi. Mungkin dia khawatir. Mungkin dia takut. Kalau suatu saat nanti kita keceletot dan mengumbar aib masa lalunya. #eh …
OK, I’ll considering about that hehehe
Salah seorang
lainnya berusaha menutupi masa lalunya dengan tidak mencantumkan nama sekolah
yang telah memberinya gelar, entah itu
sengaja atau tidak, terselip harapan netizen
(yakali artis) won’t notice. Bagi yang
tidak tahu mungkin tidak akan menjadi masalah, tapi bagi yang tahu … pasti mengangkat
alis, dilanjut dengan ekspresi *smirk
kalau nanti bertemu.
BTW, the more you hiding, the more we seeking.
Ketika masih
kecil aku suka menonton beauty pageant di
televisi, demi melihat wanita dengan standar
3 B (brain, beauty, behaviour) melenggang di atas catwalk itu aku bahkan rela begadang. Dan diantara semua pemenang beauty pageant tersebut, ada salah satu
jawaban finalis yang membuatku terkesan sampai saat ini.
Pada tahap grand final semua finalis mendapatkan pertanyaan yang sama “if your life was a movie, which part of the
movie would you rewatch or remove? Please answer and give a reason?”
Finalis pertama
menjawab “I want to rewatch the happiest
part of my life, the family part because I love them so much and I want to make
it stay forever”.
Finalis kedua
menjawab “I want to watch the happiest
part and remove the saddest part because everybody deserved to be happy, no one
want to have the sad part of their life”
Finalis
ketiga menjawab “I want to watch from
beginning, I don’t want to rewatch or remove any part because no matter how
happy I am or how sad I am, it is my life”.
Tentu saja
semua juri setuju untuk memberikan gelar beauty
pageant kepada finalis ketiga yang berasal dari Russia, selain memiliki 3 B
ia juga memiliki pandangan yang realistis.
Setiap orang
berhak menentukan jalan hidupnya msing-masing, terserah mau menjalani hidup
yang seperti apa atau dengan cara yang bagaimana. Terserah … Namun,
menghilangkan salah satu part (dalam
hidup) tidak akan lantas membuat hidup seseorang menjadi sempurna. Perfect is imperfection.
Kadang aku
bingung ‘ada apa sih dengan
orang-orang ini?’
Kalau dulu
kita menggunakan social media untuk
bersosialisasi, yang pure untuk
mencari teman dan menemukan teman lama, kini social media bergeser ke arah sebaliknya, menunggu untuk ditemukan.
In viral lyfe you could be anything you
want to be, termasuk pencitraan atau bahasa kekiniannya self(ish) branding.
Di pelajaran
Sejarah SD, ada istilah kasta yang digunakan dalam masyarakat Hindu, kasta
sendiri adalah tingkatan atau golongan orang-orang dengan spesifikasi tertentu
dalam tatanan masyarakat. Kasta ditentukan berdasarkan family root (nenek moyang) dan bersifat permanen, yang artinya
adalah takdir.
Seperti fashion cycle yang berulang, kasta kini
muncul dalam bentuk yang lebih borderless.
Orang sudah bisa memilih di kasta mana ia akan berada, mau low class, middle class
atau high class sekalipun bisa … tergantung
check in dan photography sensenya.
Masih
temanku, ia mewanti-wanti agar aku tidak mengetag fotonya yang (menurutnya) nggak
cantik dengan alasan khawatir distalking
gebetan atau rivalnya, ia juga memintaku menghapus tag pada semua fotonya dengan alasan yang sama. Hell ohh …
Satu-satunya
alasan yang reasonable kenapa ia
melakukan hal seperti itu versiku, adalah karena ia juga melakukan hal yang
sama pada gebetan atau rivalnya. Membanding-bandingkan dan
mencari celah ‘nggak siap jepret’ yang diyakininya sebagai cela
sosial.
Ia juga
menggunakan fitur fake GPS untuk check in palsu, nonton film bajakan di
kosan berasa lagi nonton premiere di bioskop, makan di warteg
depan gang berasa lagi makan di cafe
terhits seBandung raya. Yaelahh Mbak
… beban gengsinya berat bener …
menggunakan fitur fake GPS untuk check in palsu, nonton film bajakan di
kosan berasa lagi nonton premiere di bioskop, makan di warteg
depan gang berasa lagi makan di cafe
terhits seBandung raya. Yaelahh Mbak
… beban gengsinya berat bener …
So, never judge someone based on their social media account, mungkin itu hanya
pencitraan …
pencitraan …

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.