Kebayang nggak suatu hari, saat penyebaran Covid-19 mereda, sebagian besar orang di negara ini sudah divaksin, dan akhirnya kita tidak perlu pakai masker lagi, apa yang ingin kamu ucapkan pada diri sendiri?
Kalau aku, aku akan bilang, “Selamat, Hanum. Kamu lulus. Kamu sudah bertahan dengan sangat baik.”
Saat mengetikkan ini, mataku mulai berkaca-kaca. Betapa inginnya masa itu datang dalam waktu dekat. Betapa inginnya aku bilang ke seluruh dunia, bahwa kita telah bertahan dengan sangat baik selama masa pandemi ini.
Jujur, masa awal pandemi adalah masa-masa tersulitku. Aku kehilangan pekerjaan. Dengan mudahnya semua orang mengecam kegiatanku sebagai seorang traveler. Traveler yang membawa virus ini berpindah dari satu negara ke negara lain. Padahal di balik kecaman itu, ada perut yang harus diisi, ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Traveling sudah jadi pekerjaanku. Tapi karena kecaman itu, aku harus menerima banyak sekali kata-kata nyinyir orang. Aku tidak lagi bisa leluasa berbagi tempat-tempat indah, makanan unik, pengalaman luar biasa dalam perjalanan di social media. Karena di balik tempat-tempat indah itu, ada virus yang menyusup. Begitu pikir orang-orang. Begitu juga pikirku was-was. Akhirnya aku berhenti sebentar. Ternyata pandemi ini melanda dunia dalam jangka waktu lama. Aku harus bangkit.
Kini sudah hampir 2 tahun kita hidup di tengah pandemi. Ada jutaan orang gugur karena Covid-19. Pandemi ini tak saja menuai virus, tapi juga menuai hoax. Pro-kontra terhadap eksistensi virus ini terus ada. Tapi yang lebih ganas lagi adalah penyampai berita yang menyatakan ketidakpercayaan terhadap beragam prokes dan antivirus. Padahal di luar sana korban terus berjatuhan. Grafiknya naik-turun. Kenapa ada saja orang yang mempengaruhi orang lain untuk tidak mempercayai keberadaan virus ini. Semestinya, jika kamu tidak percaya Covid-19, sebaiknya diam saja di rumah sebagai bentuk solidaritas bagi orang yang sedang berjuang sembuh dan keluarga yang sedang bangkit setelah kehilangan saudaranya.
Sekarang kita masuk ke era vaksin. Menurutku, sosialisasi vaksin ini adalah bagian dari perang melawan hoax-hoax yang tidak bertanggung jawab itu. Aku sadar, betapa sulitnya kita meng-influence orang-orang untuk ikut meramaikan vaksinasi. Apalagi akses untuk vaksin juga dibatasi pada kalangan tertentu. Untuk kategori pekerja kreatif sepertiku baru dibuka di area Jakarta.

Namun, sejak PPKM Darurat diberlakukan, peminat vaksin meningkat pesat. Alasan orang untuk vaksin berbeda-beda. Sentra vaksinasi dibuka di mana-mana. Pemerintah mewajibkan vaksin khususnya untuk para pejalan. Bagi yang ingin melakukan perjalanan, baik darat, laut, dan udara wajib menunjukkan sertifikat vaksin. Sehingga mau tidak mau, banyak orang berburu tempat vaksin.
Pemerintah DKI Jakarta juga dalam waktu dekat akan memberlakukan wajib vaksin buat pengunjung mall dan tempat tertentu. Sebenarnya penetapan aturan ini agak terdengar kontroversial. Namun, setelah aku ikut zoom meeting bersama Kementerian Perhubungan beberapa waktu lalu, pemerintah punya alasan untuk memberlakukan kewajiban itu. Vaksin Covid-19 masih belum merata di kalangan rakyat sehingga pemerintah dan lembaga terkait mencari cara agar masyarakat akhirnya memilih untuk vaksin.
Aku sebenarnya jarang membahas ini di ruang publik, entah itu di social media maupun blog. Tapi aku merasa, kini saatnya aku membagikan pemikiranku sendiri di sini.
Yang kita perangi ini berwujud virus, partikel terkecil yang menyusup ke dalam tubuh kita. Sudah banyak spekulasi tentang asal virus ini. Virus dari hewan, virus buatan, protein yang dimutasikan, dan semuanya menghadang Cina atas penyebaran virus ini. Nggak sedikit munculnya spekulasi tentang adanya konspirasi dari elite global. Aku juga sudah baca sumber artikel dan videonya beberapa kali. Kumunculan virus ini ujung-ujungnya adalah bisnis vaksin. Ya, pendapat itu memang masuk akal. Aku sendiri tidak membantah. Lantas apa kemudian?

Apa kita akan diam saja? Partikel kecil virus ini sudah menginfeksi jutaan orang tanpa pandang bulu. Apakah kita tetap menutup mata? Kalau memang ini bagian dari konspirasi, lalu kita mau mengeluh seperti apa? Ini sudah kejadian dan menyebabkan pandemi. Ada juga yang mengatakan, tinggal hentikan saja pandemi, buang masker, maka dunia aman. Tidak semudah itu kurasa. Dulu Ibu Siti Fadillah, Menteri Kesehatan RI tahun 2004 pernah menghentikan pandemi akibat SARS. Beliau sekuat tenaga melawan argumen WHO terhadap penyebaran virus flu burung di Indonesia. Tapi beliau tidak mengatakan bahwa virus flu burung itu tidak ada bukan? Semua berdasarkan fakta dan data. Mungkin saat itu kita masih punya waktu untuk menolaknya.
Namun, berbeda kasusnya dengan pandemi saat ini yang sudah keburu menyebar luas dan negara telat bertindak tahun lalu untuk menutup pintu gerbangnya. Kita saat ini nggak bisa beralasan bahwa ini konspirasi dan salah pemerintah. Lalu kita harus bagaimana, sementara melihat sahabat, kerabat, saudara kita mengerang melawan sakitnya?
Ada banyak jalan sudah ditawarkan. Protokol kesehatan, mengurangi laju mobilitas, menghindari kerumunan, dan kini vaksinasi. Itu adalah upaya agar sistem imun kita kebal dan pandemi bisa diakhiri. Bukannya membuat kita bebal dan dibutakan. Ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur. Percuma kita berkoar-koar ini konspirasi dan ini hanya bisnis. Hey, virusnya sudah membumi. Sebegitu egoiskah kita membiarkan diri kita terjangkit dan menyebarkannya di lingkungan keluarga?
Vaksin adalah salah satu jalan keluar penting agar kita bisa mengakhiri pandemi. Mungkin banyak yang kurang setuju, tapi bayangkan kalau imun kita masih belum bisa menangkis virus baru, Covid-19 akan dengan santai berpindah-pindah dari inang satu ke inang lain lalu bermutasi. Jika kita sudah divaksin, 1 penangkal akan membuat virus mental. Bayangkan jika satu kota sudah divaksin, bagaimana virus itu akan berpindah? Itulah yang namanya herd immunity. Terlepas dari ini adalah bagian dari konspirasi, ya bisa jadi. Tapi lihat, sudah berapa korbannya. Apakah kita masih harus tetap keras kepala? Tidak perlu berkoar-koar menolak konspirasi atau ikut serta di dalamnya. Cukup pikirkan keselamatan diri dan keluarga. Andai semua orang berpikiran sama, virus nggak punya alasan lagi untuk berpindah dan konspirasi itu, jika memang ada, akan berhenti dengan sendirinya. Kalau belum sadar, ya terimalah nasib bahwa pandemi masih akan terus melanda hingga 1-2 tahun ke depan.

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.