Sabtu ini mama mengajakku ke Semarang, menghadiri undangan sepupunya yang akan mantu. Papa berhalangan karena ada perjanjian dengan relasi bisnis. Dan seperti biasa, akulah yang mendapat kehormatan, tepatnya barangkali kutukan, untuk menyupiri mama. Padahal minggu ini pula teman-teman klub motor ngajak touring ke Bogor. Aaarrgh… dasar sial! Beginilah nasib jadi anak lelaki satu-satunya, sementara kakak-kakak perempuanku bisa enak-enakan liburan.
Dan sepanjang jalan, telingaku mendapat siksaan ocehan tante dan mama. Bahkan suara musik tidak mampu meredam suara mereka. Malam menjelang ketika kami memasuki wilayah alas roban, kawasan hutan yang melegenda dengan keangkerannya. Sialnya, aku termasuk penakut untuk hal-hal yang berkaitan dengan supranatural. Aku teringat kisah sebuah bus yang nyasar di tengah hutan ini. Untunglah jalanan cukup ramai.
Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, wiper kuhidupkan dan mencoba mengikuti sebuah truk di depan. Entah kenapa, aku tak mampu mengejar bayangan lampu truk tersebut, padahal sudah full gas, sampai kemudian aku sadari tinggal kami sendiri di jalan. Dan yang membuat aku merinding adalah menyadari kami tak lagi berada di jalanan aspal, tapi jalanan tanah berbatu yang membuat mobil kami berguncang-guncang, suasana di kanan kiri gelap gulita, hanya tampak bayangan batang-batang pohon dan semak belukar.
Penderitaan lengkap sudah ketika ban mobil terperosok di tanah yang lunak akibat hujan tadi. Dua wanita penumpang setia di dalam jangan ditanya lagi, omelan mereka sama banyaknya dengan butir-butir tetesan air hujan yang begitu deras menghujani bumi, membuat kepanikanku kian bertambah. Mama, Tante Lia dan aku mencoba menghubungi kerabat untuk minta bantuan, tapi semua jaringan seluler tidak ada sinyal.
Tiba-tiba sekelebatan lampu senter menyorot ke arahku. Apa lagi ini, membuat nyaliku kian menciut, tapi masa sih ada setan bawa senter, akal sehatku berkata. Dari kegelapan muncul sosok lelaki paruh baya, bertelanjang dada dan memakai caping lebar.
Jalan setapak yang becek di tengah hutan itu membuat mama dan tante berkali-kali terpeleset, membuatku berkali-kali harus memapah mereka, tentu saja setelah terlebih dahulu dihadiahi sumpah serapah mereka. Payung yang mereka bawa jadi percuma, tak mampu mencegah mereka menjadi basah kuyub dan terciprat lumpur. Ternyata jarak menuju rumah si bapak lumayan jauh juga, kira-kira 15 menit kami berjalan baru nampak temaram cahaya sebuah rumah.
Tampak sepasang perempuan di atas dipan tengah tertidur, terdiri dari wanita separuh baya dan satu lagi seorang gadis yang kira-kira seusiaku.
Dengan segera mereka beranjak bangun meninggalkan dipan yang hanya beralaskan tikar dan selimut kumal itu. Untuk ukuran kota sekalipun, si gadis berwajah cukup manis walau dengan pakaian t shirt dan bersarung batik yang tampak lusuh, sementara ibunya sedikit lebih besar dengan wajah biasa saja, memakai kebaya dan kain yang dililitkan sebatas dada yang sama lusuhnya, namun menampakan belahan dadanya yang kupikir cukup besar, menjadi pemandangan paling baik selama di rumah ini. Dalam hati timbul rasa iba di hatiku melihat bagaimana miskinnya mereka, sekaligus juga bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tinggal di tengah hutan dan terpencil seperti ini.
Aku bersiul dua kali menyaksikan bahu putih keduanya yang terekspose yang tentu saja berujung dengan dampratan mereka, membuatku bergegas pergi ke belakang. Ternyata sebuah dapur sederhana yang cukup besar dengan sebuah dipan dan tungku tanah dengan kayu bakar yang masih menyala, di atasnya sebuah panci hitam. Di atas dipan sang ibu dan anak tengah menyiapkan minuman.
Mama dan tante tengah bercakap-cakap dengan lelaki pemilik rumah ketika aku tiba. Aku segera bergabung. Pak Simo meladeni ocehan mereka dengan datar dan singkat. Matanya tajam menatap mama dan tante, membuat mereka tampak rikuh dan mengurangi intensitas omongan mereka. Tak lama kemudian sang isteri dan anak gadisnya tiba mengantarkan minuman dan sepiring singkong rebus di hadapan kami.
Mataku berpesta pora menyaksikan payudaranya yang ranum dan berukuran lumayan itu, lalu terus ke bawah ke bagian pinggulnya yang membulat hingga bagian delta di antara dua pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat. Baru kali ini kulihat secara nyata tubuh telanjang seorang wanita. Asih mengarahkan tanganku agar hinggap di atas gunung kembarnya yang kenyal dan tanpa komando segera kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya. Sementara Asih dengan wajah setengah tertunduk menatap ke arah selangkanganku yang berada dalam genggaman tangannya. Rasanya aku bisa orgasme saat itu pula.
Wajahnya kemudian mendekat ke arahku dan ia mulai melumat bibirku, dengan segera balas kulumat bibirnya yang agak tebal namun sexy itu, dan memeluknya erat hingga payudara kenyal itu merapat di dadaku. Selintas kulirik mama dan tante yang masih terlelap nyenyak, dada mereka yang penuh itu naik turun seiring tarikan nafas. Aku tak peduli jika seandainya mereka terbangun, nafsu ini sudah berada diubun-ubun.
Asih mendorong tubuhku berbaring di atas dipan. Dengan sabar ia telentangkan aku, lalu merangkap di atas tubuhku, kembali melumat bibirku, menciumi leher, dada, perut… dan aku mengejang ketika batang penisku kini dikulum, dihisap dan dilumat pelan mulutnya, ia tampak berpengalaman sementara aku bisa dikatakan teramat lugu dan bodoh dalam urusan kenikmatan biologis ini. Untaian rambut panjangnya mengusap-usap perut dan selangkanganku, rasanya geli-geli nikmat. Ia kemudian bangkit berdiri, berjalan ke arah wajahku lalu dengan perlahan berjongkok di atasnya, ia mengangguk seolah-olah menyuruhku menikmati liang senggamanya yang merekah merah, aroma asing namun membangkitkan gairah berahi memenuhi hidungku, dan tanpa sadar aku mulai menjilati permukaan vaginanya dengan rakus. Matanya hanya terpejam menikmati ulahku.
Tapi sebuah keanehan terjadi, kembali batang kontolku seperti dikulum seseorang, aku mencoba bangkit untuk melihat apa yang terjadi, Asih dengan pengertian berlutut sebentar. Aku terkejut bukan kepalang mendapati isteri pak Simo alias ibunya Asih tengah mengulum dan mengunyah kontolku, kebayanya telah lepas dan kain kembennya melorot sebatas perut, payudaranya yang jauh lebih besar dari milik anaknya berayun-ayun dengan putingnya yang keras menyapu kedua pahaku. Aku tak pernah membayangkan pengalaman seks pertamaku bisa sedahsyat ini, dipuasi sekaligus ibu dan anak.
Kulirik ke arah pak Simo, yang dengan santai terus menghisap rokoknya menyaksikan kami. Ia tak nampak sama sekali keberatan. Aku kembali menjilati memek Asih sementara di bagian bawah tubuhku, ibunya sibuk menghisap, menjilat batang kemaluan dan biji pelirku.
Perasaan nikmat diremas rongga yang hangat, basah dan sempit menjalari sekujur tonggak kemaluanku dan sinyal-sinyalnya dikirim ke seluruh tubuhku. Asih dengan lincah memaju mundurkan pinggulnya, payudaranya berguncang keras mengundangku untuk menangkap dan meremas-remasnya. Ia merintih-rintih pelan menikmati masuknya benda asing di dalam vaginanya. Entah keluarga macam apa mereka, aku tak peduli lagi. Bulir-bulir keringat mulai muncul di permukaan kulit kami berdua, suasana dingin malam itu menjadi hangat. Asih merebah di atas tubuhku, memelukku erat kemudian berusah menggulingkan tubuhku dan segera kuturuti sehingga kini aku berada di atas tubuhnya, kembali tubuh sintalnya kupompa keras sehingga dipan itu berderit-derit.
Tiba-tiba pak Simo kembali masuk diikuti isterinya, seolah tak mempedulikanku, ia mendekati dipan di depan kami, membawa sebuah tungku dan kendil kecil, sontak ruangan gubuk itu dipenuhi aroa kemenyan. Ia duduk bersimpuh di sisi mama, meniupkan asap kemenyan ke wajah mama dan tante Lia kemudian memercikan sedikit air di sekujur tubuh mereka berdua. Semua tak lepas dari pandanganku yang sibuk memacu kenikmatan menggarap tubuh anak gadisnya yang terus merintih-rintih. Lagi pula, jarak antar dipan itu tak lebih sekitar 2 meter saja.
Usai melakukan ritual, perlengkapannya kemudian dibawa istri pak Simo ke belakang. Dan inilah saat yang aku tunggu, dengan perlahan pak Simo melepaskan ikatan kemben di dada Mama, lalu menurunkannya ke bawah. Perlahan payudara mama tersingkap, terus hingga perut, lalu bayangan hitam tumpukan rambut di pangkal pahanya. Mataku nanar memperhatikan betapa tubuh mama demikian indah, bahkan di usianya yang 43 tahun. Payudaranya membusung besar dengan puting coklat muda, perutnya yang putih mulus naik turun seiring tarikan nafas, dan yang kian aku memacu gerakan menyetubuhi Asih adalah gundukan vagina mama yang menyembul dan ditumbuhi rambut kemaluan yang lebat. Padahal dari situlah aku lahir.
Tapi itu bukan satu-satunya pemandangan indah yang kusaksikan. Setelah menelanjangi mama, pak Simo berjalan ke sisi dipan berikutnya, dengan segera ia lepaskan kain kemben yang dipakai tante Lia, kembali mataku berpesta pora menyaksikan tubuh wanita separuh baya yang juga tak kalah indah dengan tubuh mama, sekujur tubuhnya putih mulus meski sedikit gemuk, bahkan payudaranya sedikit lebih besar dari punya mama.
Pak Simo dengan kasar meremas-remas kedua bukit kembar tante dan membetot ringan, lalu mengusap-usap perutnya yang putih dan mulus terus ke bawah pusar di mana semak belukar hitam tumbuh lebat, kemudian dia beringsut ke ujung dipan, melebarkan kedua paha tante Lia, lalu merunduk tepat di ujung segitiga hitam selangkangan tante, dan mulai mengecap dan menjilati organ kewanitaanya.
Sampai kemudian tante kelihatan mulai bergerak gelisah, meski mata masih terpejam, dan mulutnya mulai mengelarkan suara rintihan yang mulanya lirih namun semakin keras erangannya ketika pak Simo mulai mengorek-ngorek memek tante dengan jemarinya. Membuatku makin semangat mengayunkan pantat menggali dalam-dalam lubang senggama Asih dengan kontolku.
Suasana erotic bercampur magis memenuhi seantero rumah gubug itu, suara rintik hujan dipadu erangan rintihan dan kecipak beradunya kelamin dan sayup-sayup suara dalang wayang kulit dari radio butut bagai orkestra yang memacu berahi.
Puas bermain-main dengan tubuh tante Lia, pak Simo bangkit berdiri berjalan memutar menuju di mana mama tidur, kini giliran ibu kandungku akan menerima tindakan cabul lelaki asing, di depan anaknya pula. Pak Simo mulai meremas-remas payudara mama, dan juga memilin-milin putingnya, lalu ia merunduk, menghisap dan menggigit-gigit ringan mutiara kecoklatan di puncak gunung itu. Wajah mama kelihatan mengernyit. Tangan mama direntangkan ke atas kepala, lalu ia hirup ketiak putih mama dengan dalam.
Setelah puas, kembali tangan-tangan kekar pak Simo merayapi sekujur tubuh bugil mama, dan berakhir hinggap di rerumputan hitam di bawah pusar mama, menyisiri bulu-bulu kemaluan lebat itu sebelum jari-jemarinya mulai menggali dalam-dalam lubang di mana aku lahir 17 tahun lalu. Dan itu memacu ledakan orgasmeku, kurangkul Asih erat-erat lalu semburan demi semburan cairan hangat memenuhi setiap milimeter rongga vagina anak gadis dari lelaki tua yang tengah sibuk menghancurkan kehormatan ibu kandungku.
Sensasi nikmat itu terus berlanjut sampai kurasakan tak ada lagi tetesan sperma yang mengalir keluar, lalu aku bangkit meninggalkan tubuh Asih dan seolah tak mempedulikannya, aku terduduk asyik menyaksikan adegan bagaimana tubuh telanjang mama digarap oleh pak Simo.
Sama seperti tante Lia tadi, kini mama mulai merintih-rintih dan tubuhnya bak cacing kepanasan bergerak kesana kemari, sementara matanya juga masih terpejam seolah-olah masih berada di alam mimpi. Asih turun dari dipan dan berlutut di hadapanku, dan hap! Ia menjilati sekujur penisku yang masih diselaputi lendir dan sperma seolah-olah ingin membersihkannya, aku hanya bisa termangu menikmatinya sampai kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan ke bagian belakang rumah.
Pak Simo kini mengangkat betis mama dan ditumpangkan di pundaknya, sehingga pinggul mama terdongak ke atas, lalu ia beringsut ke depan dan makin tinggi mengangkat bagian bawah tubuh mama hingga vagina mama tepat di depan mulutnya, dan dengan rakus ia jilati liang senggama ibu kandungku itu, mama yang seperti orang kayang itu mulai menceracau ribut. Pemandangan sensual itu membuat senjata biologisku yang tadinya layu mulai bangkit kembali secara perlahan.
Dan malam itu kejutan belum berakhir, ibunya Asih muncul dari belakang rumah mendekatiku, dan sebelum ia duduk menemaniku, ia tanggalkan satu-satunya alat penutup tubuhnya, kain batik lusuh itu jatuh pelan ke permukaan lantai, yang segera ia pungut untuk di letakan di atas bantal. Mataku nanar menyaksikan tubuh semok berbalut kulit sawo matang itu dengan payudara besar duduk mendekat disampingku, dan tanpa tedeng aling-aling langsung meraup batang penisku dan mengusap-usapnya pelan. Dan aku pun mulai berani juga mulai meremas-remas payudara montok yang jauh lebih besar dari milik anak gadisnya, mungkin sebesar punya mama, lalu menjamah memeknya dan mengutil-ngutil klitorisnya, membuat matanya merem melek dan nafasnya mulai mendengus.
Pak Simo lalu menurunkan tubuh mama, lalu bangkit berdiri melepaskan celana sontog yang mirip celana pakaian silat, batang kontolnya yang besar yang melebihi ukuran milikku itu telah mengacung berdiri dengan gagahnya. Ia menaiki dipan lalu mengangkangi dada mama, dengan menjambak rambut mama, ia arahkan kepala mama hingga ujung kepala penisnya menyundul bibir mama. Mata mama membelalak, seperti orang bingung.
Dan hal itu membuat mama terbatuk-batuk, lalu melepaskan paksa kontol Pak Simo.
Puas mengobrak-abrik mulut mama, pak Simo merangkak mundur, membuka lebar-lebar kedua paha ibu kandungku yang kini dengan pasrah menanti dieksekusi. Lalu dengan posisi setengah duduk ia paksa mendesakkan kontol besar itu ke mulut memek mama, dan karena sangat besar membuat proses penetrasi berjalan lambat, mama sampai membelalakkan mata dan mengerang seperti mengejan sampai akhirnya benda keras itu tertelan sepenuhnya.
Agak lama pria tua membiarkan kelaminnya berdiam dalam genggaman vagina mama, sepertinya ia menikmati betul hal itu, sampai kemudian mulai menariknya ke belakang pelan,lalu dimasukkan kembali. Setiap gerakan membuat mama merintih dan meringis dan mulai menggigiti jemarinya, sementara pak Simo kian aktif mengayunkan pantatnya maju mundur seaktif tangan-tangannya yang dengan kasar meremasi tetek montok mama, dan kulihat batang kontolnya berkilauan basah tanda telah diselaputi lendir vagina ibu kandungku.
Membuatku merasa iri melihat pria tua itu menikmati tubuh indah perempuan yang telah melahirkanku, dan membuatku menjadi seperti dendam sehingga kemudian isterinya yang berada disampingku kurebahkan, kubuka lebar selangkangannya dan tanpa ba bi bu kutusukkan batang kontolku ke lubang senggamanya yang ternyata telah basah. Rumah gubuk itu kembali diramaikan simfoni sensual, erangan mama dan isteri pak Simo sahut menyahut mengiringi suara eranganku dan pria paruh baya itu. Keringat mulai membanjiri tubuh-tubuh yang terlibat persetubuhan terlarang malam itu.
Aku pun kemudian melakukan hal yang sama, memaksa bu Simo menungging, pantatnya yang bahenol itu kugigiti hingga puas, ia hanya cekikikan ringan, lalu… Jlebbb!!! kembali vagina tembemnya kugali dengan batang penisku. Kembali suara kecipak kelamin beradu memenuhi seantero ruangan. Tetek bu Simo segera kutangkap dan kuremas-remas sekeras-kerasnya.
Tiba-tiba mama mengejang dan menjerit panjang, dan pak Simo pun seolah memberi jeda waktu menghentikan hentakannya membiarkan mama menikmati orgasmenya. Mama terus mengeram hingga kemudian tubuhnya kembali rileks dan kembali terguncang-guncang dahsyat akibat dientot dari belakang.
Menyaksikan bagaimana ibu kandungku mengalami orgasme di depan mataku sendiri, menimbulkan sensasi dahsyat dan membuatku tak mampu mencegah menyemprotkan air mani di dalam remasan memek bu Simo. Lama kunikmati ejakulasi itu sampai akhirnya aku terduduk lemas meninggalkan pantat bu Simo yang seperti anaknya tadi, membersihkan seluruh batang kontolku dengan hisapan mulut dan jilatan lidahnya hingga ke lubang anusku. Ia kemudian beranjak ke belakang meninggalkan aku sendirian menyaksikan adegan dahsyat persetubuhan terlarang ibuku dan pak Simo.
Tubuh mama berkilauan cahaya temaram lampu akibat basah oleh keringat.
Sekian menit kemudian kembali mama mengejang dan berteriak genit ketika orgasmenya datang kembali. Kembali pak Simo terdiam sekian detik hingga orgasme mama reda. Namun kemudian ia mencabut batang kontolnya dari mama, dan kembali suara seperti kentut keluar dari memek mama yang kemudian rebah terbaring tengkurap dengan nafas masih terengah-engah.
Sama seperti mama tadi, benda keras itu agak tersendat masuk pusat kewanitaan tante, membuat tante Lia pun terbangun dengan wajah meringis. Ia agak bingung sesaat dan sama seperti mama tadi, ia mulai panik dan mengutuk-ngutuk.
Persetubuhan haram nan dahsyat membawa efek berantai bergoyang-goyangnya dipan tua itu beserta penghuni di atasnya, mama yang masih mabuk dalam kepuasan seksualnya, dan tetek tante berguncang bagai gempa bumi dengan skala tertinggi. Ingin aku mendekat dan meremas-remasnya, tapi aku masih sungkan, sadar posisiku sebagai anak dan keponakan dari dua wanita matang yang cantik dan sensual itu.
Beberapa menit kemudian, pak Simo menepuk pantat bahenol mama, yang tanpa instruksi lebih lanjut langsung kembali menungging. Tangan pak Simo segera kelayapan mengelus-elus vagina mama lalu mulai memasukkan dua jarinya, kini rumah itu diributkan suara desahan, rintihan sepasang wanita kakak beradik yang tengah dicabuli pria yang bukan haknya. Aku menyaksikan hal itu dengan mulut ternganga, jika ada kapas jatuh mengenai batang kontolku yang mengeras mungkin saat itu pula aku bisa orgasme.
Dan sekian menit kemudian, dua wanita kakak beradik itu kembali mengeluarkan teriakan pelampiasan rasa puas luar biasa. Aku menduga-duga, apakah mereka seliar itu jika dengan suami masing-masing? Aku kira tidak, mengingat selama ini aku mengenal mereka sebagai wanita yang cukup konservatif.
Pertunjukan belum berakhir, ketika dua wanita itu masih dalam keadaan setengah sadar dengan orgasme masing-masing, pak Simo meninggalkan tubuh menungging tante Lia, bergeser mendekati mama, dan bleess!!! kontolnya yang diselimuti lendir vagina tante Lia itu ganti kembali menghuni memek mama, yang segera bak orang kepedasan mendesah-desah manja dan liar. Tapi tentu saja, vagina tante tidak lama menganggur, jemari-jemari pak Simo segera menggantikan tugas kontolnya tadi. Aroma seks memenuhi setiap sudut gubuk berdinding bambu itu.
Pak Simo bangkit meninggalkan mama lalu berjalan memutari dipan ke arah kepala tante yang masih setia menungging.
Pak Simo lama menatap mereka berdua dengan wajah puas tanpa mempedulikanku yang kini menderita dengan kontol tegang tanpa pelampiasan. Ia mengenakan kembali celananya, berjalan menuju kursi tamu dan kembali melinting tembakau, lalu kembali beranjak dan duduk di sampingku sambil mengisap rokok.
Dengan gemetar aku berjalan ke arah dipan dimana mama dan tante kini terbaring telentang menengadah. Tubuh bugil mereka masih bermandikan keringat, dan nafas mereka teratur naik turun membawa serta dua gunung kembar masing-masing. Mata mereka terpejam dengan bibir tersungging senyum. Mataku nanar menyaksikan memek mama yang masih setengah terbuka akibat masuknya benda oversize ke situ tadi, juga demikian halnya dengan memek tante Lia.
Kini sadarlah aku apa yang menyebabkan ejakulasi berlangsung begitu lama, dari masing-masing organ kewanitaan mereka, masih mengalir keluar lelehan sperma yang luar biasa banyaknya, genangannya di atas tikar bahkan selebar dua piring makan. Bahkan belum berhenti mengalir ketika kuelap dengan kain kemben yang dipakai mama sampai beberapa kali usapan. Kutatap pak Simo, ia kembali mengangguk.
Aku gemetar menyentuh vagina mama dan tante Lia bergantian, bingung menentukan mana yang harus kusetubuhi lebih dulu. Setelah menimbang sekian detik, kuputuskan untuk lebih dulu ngentot mama, aku penasaran ingin mencicipi liang dimana aku dulu lahir. Dengan segera aku jongkok di antara dua paha mama, mengarahkan kepala jamur ungu merapat bibir memek mama, lalu bless!!!Perlahan tapi pasti aku memasuki lubang setelah 17 tahun aku keluar dari situ.
Sensasinya sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Tanganku mulai menjamah payudara mama, bahkan masih sekeras milik Asih, pikirku. Aku kemudian rebah di atas tubuh mama, menciumi ketiaknya, menghirup dalam-dalam aroma parfum bercampur keringat bau khas wanita. Pheromone, demikian istilah yang aku tahu dari Discovery Channel, aroma khas buat penarik pasangan.
Mama terus merintih-rintih lewat bibirnya yang setengah terbuka, membuatku gemas ingin segera melumatnya. Kini lidah kami saling membelit, tapi tanganku seperti punya kreatifitas sendiri, kini aku meremas-remas payudara tante Lia yang terbaring di sisi mama. Dan akhirnya ganti kulumat bibirnya sambil terus menusuk-nusukkan batang kontolku dalam memek mama. Ruangan itu diramaikan kembali rintihan manja dua wanita kakak beradik yang aku cabuli. Hmm…kini aku punya banyak cerita soal pengalaman seks dibanding kawan-kawan SMA ku.
Puas mencicipi rongga kelamin tempat aku lahir, aku beringsut ganti mencoba mencicipi liang di mana dua orang sepupuku lahir dari situ. Tante kembali ribut merintih. Dan seperti tadi, bergantian aku lumat bibir tante dan mama, demikian juga payudara montok masing-masing, bergantian aku jamah. Aku yang tengah mabuk dalam kekuasaan kini menginginkan mencicipi tubuh sexy mereka dari belakang,
Keringat kami kembali berceceran. Entah karena sudah dua kali orgasme, kali ini aku cukup lama bertahan hingga mampu menghasilkan kembali jeritan kepuasan dari mulut mama dan tante. Dan setelah sekian menit kemudian kurasakan biji pelirku mulai kaku, tanda sesaat lagi aku akan orgasme, agak sedikit bingung memutuskan di memek siapa aku harus ejakulasi, namun tepat ketika giliran mama yang kusetubuhi, aku tak mampu lagi menahan, dan…
Sssrrt… srrrt… srrt… Semburan spermaku membanjiri mulut rahim dimana 9 bulan aku pernah bersemayam di dalamnya.
Ingin aku berlama-lama mendekam dalam lubang memek mama, tapi penisku telah mengerut, hingga akhirnya kucabut dan kutinggalkan tubuh mama yang segera rebah tengkurap. Aku duduk lemas di dipan tempatku tadi.
Pak Simo bangkit berdiri, mendekati mama dan tante yang masih setengah sadar. Ia melorotkan kembali celana yang ia pakai. Meremas-remas keras pantat indah mereka masing-masing dan menyuruh mereka kembali menungging kali ini menyamping mengikuti lebar dipan, lalu dengan isyarat ia menyuruh Asih dan isterinya juga menungging di dipan yang sama , sehingga ada empat wanita telanjang di satu dipan.
Terus kami berputar sampai barangkali masing-masing perempuan mengalami 20 puluhan kali dioral dan dientot dari belakang, sampai akhirnya aku tak mampu menahan laju orgasmeku lagi, kali ini wanita beruntung yang menampung spermaku adalah tante Lia, sementara pak Simo… sekali lagi dengan pabrik spermanya, menyirami wajah empat wanita sensual penuh nafsu itu dengan semburan air mani yang banyak sekali.
Malam itu terasa amat panjang. Asih dan bu Simo telah tertidur di atas dipan, masih dalam keadaan telanjang walau berselimutkan kain batik lusuh, sementara pak Simo keluar rumah entah kemana. Hujan telah reda. Tapi berahiku belum mereda, aku kini berbaring menerawang di antara mama dan tante Lia yang tengah mendengkur halus. Entah setan dari mana, kembali kusetubuhi mama dan tante yang tertidur lelap itu sampai habis spermaku. Baru kemudian aku tertidur pulas.
Sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Perlahan aku mulai mengerdipkan mata, serentak mama dan tante di kanan dan kiriku juga mulai terbangun dengan mata menyipit akibat sisa ngantuk dan silau, suara burung berkicauan ramai di luar. Juga deru kendaraan lalu lalang dan klakson. Kami saling bertatapan bingung, tante, mama dan aku nyaris menjerit mendapati tubuh kami telanjang bulat. Dengan reflek aku menutupi penisku, sedang mama dan tante mendekap payudaranya dan mencoba menutupi vaginanya. Lebih aneh lagi, kami tidak berada di rumah gubuk, tapi di kursi belakang mobil yang menghadap hanya sekitar 20 meter dari jalan raya, kami berada di atas jalan masuk hutan yang lebih tinggi dari jalan besar.
Dan kami segera berangkat.
Baru beberapa hari kemudian kami ketahui, 30 tahun lalu pernah ada seorang dukun yang kedapatan meniduri anaknya hingga hamil. Ia kemudian diusir penduduk kampung bahkan desas-desusnya dibunuh di tengah hutan. Sementara si anak juga diasingkan dan akhirnya menghilang.
Mama dan tante kini menjadi sedikit pendiam, sementara aku kini makin gairah menikmati hidup. Tapi persoalan lain mulai mendera, mama dan tante mulai muntah-muntah, mereka positif hamil. Dari yang aku baca, hantu tak mungkin menghamili manusia, berarti…