
Secara geografis, kota yang sejak 1971 hingga 1999 bernama Ujung Pandang ini menghadap Selat Makassar, berbatasan dengan Selat Makasar di sebelah Barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene (Utara), Kabupaten Maros (Timur), dan Kabupaten Gowa di sebelah Selatan.
Lokasinya sangat trategis sebagai pelabuhan utama Sulsel yang disinggahi kapal-kapal domestik dan internasional.
Pada zaman kolonial, kota ini menjadi kawasan perdagangan paling tersohor di kawasan Timur Indonesia, meskipun sebenarnya Makassar masuk ke dalam wilayah Indonesia Tengah.
Kota yang juga mendapat julukan Kota Daeng ini pun dikenal sebagai penghasil minyak alam dan kayu ebony. Keduanya merupakan komoditas ekspor berkualitas tinggi.
Tak hanya dari segi ekonomi, Makassar juga dianggap sebagai salah satu destinasi wisata menarik di Indonesia.
Kota ini juga menjadi penghubung bagi beberapa penerbangan ke Indonesia Timur.
Banyak destinasi wisata yang menjadi incaran wisatawan lokal maupun mancanegara di kota ini, antara lain Pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam, Jalan Somba Opu, Pelabuhan Paotere, Masjid Al-Markaz Al-Islami, Monumen Mandala, dan Makam Pangeran Diponegoro, serta Trans Studio Makassar yang diklaim sebagai Indoor Theme Park terbesar di dunia.
Lokasi pertama yang wajib Anda kunjungi adalah Pantai Losari. Meskipun pantai namun pantai yang satu ini berbeda dengan pantai pada umumnya. Pantai ini tidak berpasir melainkan beton di tepiannya. Di pantai ini banyak sekali cafe dan restoran yang menawarkan makanan khas Makassar seperti Pisang Epek-Epek, Cotto Makassar, Es Palubutung, dan lainnya.
Di sekitar jalan pantai ini juga banyak terdapat penginapan mulai dari hotel berbintang hingga kelas melati. Asyiknya ke pantai ini sore hari. Namun banyak juga yang datang pagi-pagi untuk jogging dan nongkrong di malam hari.
Lanjutkan ke Fort Rotterdam, yakni benteng yang dulunya digunakan sebagai pusat pemerintahan dan penampungan rempah-rempah semasa kolonial Belanda.
Benteng yang semula bernama Benteng Ujung Pandang ini merupakan peninggalan sejarah kejayaan dan keperkasaan kerajaan Gowa pada abad ke 17. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh raja Gowa ke IX, namun pihak Belanda memaksa Sultan Hasanudin untuk menandatangani perjanjian Bongaya.
Perjanjian tersebut berisi tentang penyerahan benteng kepada Belanda sekaligus menganti namanya menjadi Fort Rotterdam. Namun, saat ini tempat ini digunakan sebagai tempat pusat kebudayaan seni dan museum yang menyimpan banyak benda-benda bersejarah.
Di kompleks benteng ini terdapat 13 bangunan dan 5 buah menara dengan sebuah menara di pintu masuk, sedangkan empat buah menara lainnya ada di setiap sudut kawasan benteng.
Di dalam benteng ini juga terdapat Museum La Galigo yang berisi koleksi benda-benda sisa kebesaran kerajaan dahulu. Selain itu, ada sebuah ruangan yang diyakini sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro.
Lokasi benteng ini di jantung Kota Makassar, ke arah pantai Losari. Untuk menuju ke lokasi bisa ditempuh dengan berbagai jenis kendaraan. Di sekitar lokasi tersedia area parkir yang luas, hotel berbintang, restoran, kafe, travel, toko souvenir, pusat perbelanjaan, wartel, dan bank.
Benteng ini buka setiap hari mulai pukul 08:00 sampai 18:00 dan gratis. Sedangkan untuk museum, Anda dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 7.500 per orang, Museum La Galigo buka setiap Selasa – Minggu, mulai pukul 08.00 sampai 12.30.
Selanjutkan mampir ke Pelabuhan Paotere di Utara Kota Makasar. Pelabuhan tradisional ini menjadi tempat persinggahan kapal layar masyarakat Sulawesi antara lain kapal kayu Phinisi yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Di pelabuhan ini tersedia tempat parkir dan rumah makan tradisional.
Sebelum kembali ke penginapan, singgah dulu ke Makam Pangeran Diponegoro yang terletak di Jalan Diponegoro No.55, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar 4 Km sebelah Utara pusat Kota Makassar. Makam ini mudah dijangkau dengan berbagai macam kendaraan dan dekat dengan pusat perbelanjaan.

Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta, yang lahir pada tanggal 1 Nopember 1785. Beliau aktif berjuang melawan penjajah di Pulau Jawa tahun 1825-1830.
Pada tahun 1845 dia ditangkap dan dipenjarakan di Benteng Fort Rotterdam Makassar, kemudian diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara.
Tiket masuknya Rp 100.000 pada hari biasa, Rp 150.000 pada akhir pekan dan hari libur, dan Rp 200.000 pada saat ada even tertentu.
Ketika itu Indonesia masih dipimpin presiden pertama RI, Soekarno. Meskipun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan hampir 20 tahun namun Belanda masih menguasai wilayah Irian Barat.

Di Toko Mentari yang bernomor 140 ini menawarkan bermacam jajanan kue, kacang, dan Markisa. Harga Kacang Disko ukuran 450 gram Rp 18.000, Kacang Telur 450 gram Rp 12.500, dan Jambu Mente Rp 35 ribu per bungkus serta Markisa Ujungpandang 500 ml Rp 50.000 per botol.
Di toko ini juga menjual aneka Kopi Toraja, sarung sutra yang ditawarkan dengan harga Rp 25.000, dan baju khas Toraja dengan harga Rp 20.000-Rp 25.000.
Harga minyak tawon putih ukuran 330 ml Rp 150.000, minyak tawon merah 330 ml Rp 52.000, dan minyak kayu putih mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 57.500 per botol.

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.