![]() |
Masjid Pathok Negara Mlangi. |
Masjid Pathok Negara Mlangi sempat berganti
nama menjadi Masjid Jami’ Mlangi, merupakan salah satu dari lima masjid Pathok
Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan menjadi batas negara di bagian
barat. merupakan bangunan paling legendaris di dusun Mlangi, dibangun pada masa
Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Warga setempak menyebut masjid ini
sebagai Masjid Gedhe.
Ditahun 1985 bangunan masjid ini sempat
direnovasi menjadi bangunan masjid dua lantai berukuran cukup besar dan nama nya
pun berubah menjadi Masjid Jami’ Mlangi. Namun ditahun 2012 bangunan masjid tersebut
dibongkar dan dikembalikan ke bentuk aslinya.
Di dalam masjid masih tersimpan sebuah
mimbar berwarna putih yang digunakan Kyai Nur Iman mengajar Islam. Disekeliling
Masjid terdapat pemakaman kuno dan satu dari makam yang paling banyak
dikunjungi oleh para peziarah adalah makam dari Kyai Nur Iman yang memiliki
nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo merupakan kerabat dari Sultan Hamengku
Buwono I.
LOKASI
Masjid Jami’ Pathok Negara Mlangi
terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.
SEJARAH MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai
Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat
Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun
1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok
Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin
Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak
dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati
Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM.
Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta
Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)
Kyai Nur Iman sudah lama membina
pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku
Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai ‘mlangi’, dari kata bahasa Jawa
‘mulangi’ yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian
digunakan untuk mengajar agama Islam.
Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana
II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi
mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi
masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung
Kauman, di samping Kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh
Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari
![]() |
Gapura Masjid Pathok Negara Mlangi. |
Keempat masjid tersebut adalah : di
sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, di sebelah Timur terletak di desa
Babadan, di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, Di sebelah Selatan
terletak di desa Dongkelan.
Pengurus masjid tersebut adalah putra –
putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :
Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai
Mursodo, Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongklelan
diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi
sendiri. Masjid – masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan
Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi
dalem kraton.
WISATA ZIARAH DI MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
Makam Kyai Nur Iman senantiasa ramai di
ziarahi oleh para peziarah terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal
wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadhan saja makam
itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur’an dengan duduk
di samping atau depan cungkup makam.
![]() |
Begini perubahan bentuk Masjid Pathok Negara Mlangi. |
Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau
dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam
kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan
seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu.
ARSITEKTUR MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang
tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi. Memasuki gapura halaman masjid,
terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada
umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri
dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman
bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada
masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
Di sisi barat, utara dan timur laut
terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi
barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo
Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Di sisi
timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.
Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya
sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari
Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan
penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16
buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun
pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan,
kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah
sebelum memasuki masjid.
![]() |
Interior Masjid Pathok Negara Mlangi. |
RENOVASI DAN PEMUGARAN
Bentuk dan nama masjid ini sempat
mengalami perubahan setelah renovasi ditahun 1985. Masjid dibangun menjadi bangunan
beton dua lantai, meski beberapa fitur asli masjid tetap dipertahankan namun
beberapa lainnya hilang termasuk diantaranya adalah Blumbang yang mengelilingi
masjid.
Air blumbang diambil dari bendungan
Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air
dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi
kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan
irigasi sawah.
Sebelum proses renovasi dilakukan, pada
saat itu panitia pembangun sudah sowan ke kraton untuk meminta izin pelaksanaan
renovasi. Pihak Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk
aslinya.
Namun karena tuntutan untuk memperluas
bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti
dengan pilar-pilar beton. bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan
di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m
sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.
![]() |
Mimbar Masjid Pathok Negara Mlangi. |
Hanya beberapa bagian masjid yang masih
terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon
sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga
melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi
berdiri.
Mimbar yang ada di masjid ini juga masih
asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori
putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya
juga mempertahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang
utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.
Seiring dengan ditetapkannya UU No 11
Tahun 2010 tentang cagar budaya membawa Sultan Hamengku Buwono X untuk kembali
menginstruksikan para pengurus masjid untuk mengembalikan bangunan masjid ke
bentuk asalnya. Instruksi Sultan tersebut sempat menuai pro dan kontra masyarakat
Mlangi, sehingga renovasi baru bisa dilaksanakan pada tahun 2012.
Pemugaran ditahun 2012 ini dengan
terpaksa merobohkan bangunan masjid Jami Mlangi untuk mengembalikan
bentuk-nya ke bentuk semula, dan Namanya pun dikembalikan ken ama asal sebagai
Masjid Pathok Negara Mlangi.
![]() |
Beranda Masjid Pathok Negara Mlangi. |
PENGELOLA MASJID
Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini
langsung di bawah Kesultanan Ngayogyokarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya,
kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan
masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan
Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada
masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itu masjid yang dulunya
bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami’ Mlangi.
Namun, hubungan dengan keraton tetap
terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di
lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada
dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir
ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan
maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.
Semenjak masjid ini diserahkan ke
masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi
dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran
beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu
juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan
masyarakat.
MASYARAKAT MLANGI YANG ISLAMI
Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai
begitu banyak Pondok Pesantren. Diantaranya Pondok Pesantren As-Salafiyah
merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki.
Cara berpakaian penduduk. Di Mlangi,
para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak
pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan
jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi
prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa
naik haji.
Meski banyak warga punya kesibukan dalam
mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun
Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya
jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun
1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an.
![]() |
Kolam berair jernih di Masjid Pathok Negara Mlangi. |
Beberapa Ponpes di wilayah Mlangi
dipimpin oleh para kyai keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000
santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid
pada saat-saat sholat jama’ah dan jum’atan. Pondok pondok Pesantren tersebut
adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH
Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP
al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi’in dipimpin KH Nur Iman
Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH
Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.
TRADISI MASJID MLANGI
Bimbingan Agama
Islam ba’da magrib dan ba’da subuh
Untuk memberi bimbingan keagamaan dan
meningkatkan ketaqwaan setiap ba’da subuh dan ba’dal maghrib diadakan ceramah
oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran.
Kegiatan di
bulan Ramadhan
Selama Bulan Ramadhan dilaksanakan
Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah.
Budaya Mercon
Daerah Mlangi juga dikenal dengan budaya
mercon khususnya pada saat bulan Ramadhan. Budaya ini diyakini oleh masyarakat
Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro
(suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon
dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini
memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin
hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah
sedikit berkurang.
Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang
manggul. Tradisi ini bermula sejak Sultan Hamengkubuwono I, saat memberikan
tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren,
Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul.
tradisi jenang manggul, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar,
dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.
Lanjutkan Membaca Artikel
Masjid Pathok Negara Lainnya
Masjid Masjid Pathok Negara
Ngayokyakarta
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo
Masjid Pathok Negara Nurul Huda
Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan
Masjid Pathok Negara Sulthoni
Masjid Kotagede Masjid Tertua di
Yogyakarta

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.