
banyak kenangan masa kecil bagi saya. Di kawasan itu ada bioskop
(tapi dulu belum bioskop XXI) dan uwa saya menjadi salah satu
karyawannya. Di area belakang bioskop ada perumahan dinas kecil tempat
para karyawan bioskop tinggal. Uwa saya sekeluarga juga tinggal
di sana.
Sejak kecil saya termasuk yang sering ke rumah uwa.
Biasanya
nih kalau Agustusan, di sana suka ada panggung pentas seni dan berbagai
acara seru lainnya. Mamah rajin banget dandanin saya pakai kebaya
tradisional dengan konde besar dan berat setiap Agustusan. Udah gitu
saya nurut pula. Beda banget deh ma Nai yang suka protes kalau disuruh
pakai pakaian tradisional. Gerah dan susah bergerak katanya hahaha.
Kecuali pakai kebaca encim dengan rok batik yang tidak menghambat gerak
😁 Boro-boro dikonde, dikuncir aja Nai gak pernah mau kecuali saat
latihan taekwondo. Itu juga karena diwajibkan sama sabeum untuk
menguncir rambutnya tiap kali latihan. 😅
Kalau malam minggu, anak-anak muda di sana suka gelar break dance di
jalanan. Saya gak tau kegiatan ini rutin apa enggak karena cuma sesekali
aja nontonnya. Pastinya sih kalau film Warkop DKI kami gak pernah
ketinggalan. Selalu jadi tontonan wajib sekeluarga di bioskop setiap
film ini tayang hahahaha. Duh padahal kalau dipikir-pikir ini film kan
enggak banget buat anak-anak, ya. Tapi kayaknya saya waktu itu nontonnya
biasa aja. Gak ada mikir macem-macem selain itu memang film
komedi. Lagipula belum ada socmed juga, kan jadi gak ada kehebohan
layak apa enggak buat anak 😜
[Silakan baca:
Warung Misbar]
Masa SMP, terutama saat kelas 1 adalah masa terlama saya menghabiskan
waktu di Megaria. Saat itu, keluarga saya sudah tinggal di Bekasi
sedangkan saya masih sekolah di Jakarta. Orang tua belum tega membiarkan
anaknya pulang sekolah naik kendaraan umum. Jadi setiap pagi saya di
antar ke rumah uwa, siang hari jalan kaki ke sekolah, kemudian sore atau
malam baru dijemput orang tua. Begitu terus setiap hari kecuali saat
libur.
Biasanya sih saya ngadem di kamar begitu sampai rumah uwa. Emang
dasarnya orang rumahan hehehe. Tapi, cukup tau lah kawasan Megaria ada
apa aja. Uwa pernah buka usaha warung kecil-kecilan sekaligus foto copy.
Saya jadi tau kalau motong kertas pakai pemotong kertas manual ternyata
susah, ya. Saya kok gak bisa-bisa 😄
kecil. Gak tau deh sekarang masih ada apa enggak. Nah saat saya lagi di
Megaria kalau lagi gak ngadem di rumah uwa, bisa juga lagi main game di
sana hehehe.

Dulu sebelah kanan adalah rumah makan ayam bakar khas Solo. Sedangkan
sebelah kiri adalah area kosong yang biasanya dipakai untuk parkir.
Sekarang kiri dan kanan sudah ada bangunan. Yang menjual ayam bakar
pindah ke sebelah kiri, sedangkan yang kanan diisi dengan penjual Pempek
Megaria dan kuliner lain. Sekarang 1 ruas jalan dijadikan parkiran
sehingga hanya bisa dilalui satu arah saja.
Dulu ada supermarket Hero yang sempat berjaya. Tetapi, lama kelamaan
tutup dan sekarang menjadi showroom Grohe, produk sanitasi mewah asal
Jerman. Tidak hanya supermarket, rumah-rumah dinasnya pun sekarang sudah
tidak ada. Kalau Sahabat KeNai melintas kawasan ini kelihatannya ramai
dan cantik, ya. Dulu pun kawasan ini juga ramai tetapi kemudian ada
masanya secara perlahan meredup dan mulai sepi. Hingga kemudian ramai
lagi seperti sekarang. Ya, sekian lama saya gak ke kawasan Megaria
ternyata lumayan banyak perubahannya. Hanya bangunan utama bioskop saja
yang masih tetap mempertahankan ciri khasnya.
Membaca sejarahnya di berbagai situs termasuk Wikipedia, bioskop
Metropole yang dibangun pada tahun 1932 dengan arsitektur bergaya Art
Deco ini dirancang oleh keturunan Tionghoa bernama Liauw Goan Seng.
Bioskop ini diresmikan pada tahun 1949 oleh Wakil Presiden Muhammad
Hatta.Kebijakan anti barat presiden Soekarno pada tahun 1960 membuat nama
Bioscoop Metropool diganti namanya menjadi Bioskop Megaria. Setelah
mengalami masa jaya, perlahan bioskop Megaria pun mengalami
kebangkrutan. Pada tahun 1989, gedung bioskop ini dibeli oleh Grup
Jaringan 21 Cineplex. Saat ini Sahabat KeNai mengenalnya dengan nama
bioskop Metropole XXI.
Pasang surutnya bisnis bioskop di Megaria sehingga mengalami beberapa
pergantian nama, tidak serta merta mengubah bentuk bangunan utama
bioskop tersebut. Sejak tahun 1993 Gubernur DKI Jakarta saat itu sudah
menetapkan bioskop Megaria atau Metropole sebagai cagar budaya kelas A.
Artinya gedung ini harus dilindungi dan tidak boleh dibongkar.
Bangunan utama bioskop memang tidak boleh berubah bentuknya. Tetapi
lingkungan sekitarnya sudah berbenah menjadi lebih rapi dan cantik.
Dulu, di bagian belakang bioskop ada rumah makan ayam bakar khas Solo.
Paling tidak dari kecil sampai saya kuliah masih suka makan ayam bakar
di sana karena rasanya memang enak banget. Es teler dan somaynya juga
saya suka.

Dulu area atas ini tempat main billiar. Sekarang jadi food court Roemah
Kuliner.
Ada juga kedai Pempek Palembang di area depan bioskop pada zaman dulu.
Tetapi saya belum pernah sekalipun makan pempeknya saat itu. Di area
atas yang sekarang ini jadi Roemah Kuliner, dulunya ada tempat biliar.
Saya gak pernah masuk ke tempat billiarnya karena dulu masih kecil dan
kayaknya yang ke sana orang gede semua. Tapi sampai saat ini pun saya
belum pernah makan di Roemah Kuliner.
Kemudian yang saya ingat ada toko buku kecil di area belakang. Toko buku
kristen, kalau gak salah ingat namanya Toko Buku Immanuel. Saya
kadang-kadang suka ke toko buku tersebut. Tentu bukan untuk membeli
buku-buku rohaninya, tetapi beli berbagai stationery yang juga dijual di
sana. Meskipun uwa saya juga menjual beberapa stationery. Toko Buku
Immanuel lebih lengkap koleksinya.
Itu aja yang saya ingat tentang Megaria di masa lalu. Setelah lulus
kuliah, rasanya saya tidak pernah ke Megaria lagi. Apalagi setelah uwa
wafat dan kompleks karyawan di sana dibongkar. Saya kembali ke Megaria
pada tahun 2015 lalu. Berawal dari dirawatnya papah mertua di RSCM
selama sekitar sebulan lamanya. Kalau suami sih setiap hari bolak-balik
ke rumah sakit. Sedangkan saya dan anak-anak menjenguk seminggu sekali
atau 2 kali.
Bolak-balik ke rumah sakit selalu melewati kawasan Cikini dan Megaria.
Melintasi 2 kawasan ini selama papah sakit membuat saya jadi teringat
dengan masa kecil yang memang akrab dengan kawasan ini. Biasanya sebelum
menjenguk papah mertua, kami makan malam dulu di kawasan kaki lima
Cikini tapi belum pernah di Megaria. Saya pun mengutarakan keinginan
untuk kangen-kangenan ma kuliner Megaria, terutama ayam bakar khas
Solo-nya.
[Silakan baca:
Kuliner Malam di Pasar Hias Rias Cikini, Pindah Kemana?]
Sudah agak malam ketika kami sampai Megaria. Kayaknya sekitar pukul 8
atau 9 malam gitu, deh. Agak tersendat dan lumayan susah cari parkir.
Malam minggu, sepertinya banyak yang ingin nonton bioskop.

Agak takjub juga sih saya dengan suasana Megaria saat itu. Jadi lebih
bagus dan tertata. Tapi, saya juga sempat bingung di mana letak resto
ayam bakar yang diinginkan. Setahu saya, kalau masuk dari depan Megaria,
restonya ada di sebelah kanan. Tapi sebelah kanan ternyata sekarang
jualan Pempek dan lain sebagainya. Kalau dulu pempek kan ada di area
depan dan hanya berupa kedai kecil, sekarang pindah ke belakang. Areanya
juga lebih luas. Karena sudah malam dan suasana cukup ramai, saya sudah
gak mau cari-cari lagi. Gak ada ayam bakar, pempek pun jadi. Apalagi
saya belum pernah sekalipun coba pempek Megaria.

Lumayan lama menunggu dilayani hingga akhirnya pesanan kami datang.
Suasana di dalam resto memang sangat ramai. Tidak ada satupun kursi
kosong. Ketika pempek kami datang pun sudah tidak ada timunnya. Katanya
timunnya habis. Saat disajikan, pempek belum diberi kuah. Kita sendiri
yang menuang kuahnya yang sudah disediakan di meja. Saya suka dengan
rasa pempeknya. Pantesan aja bisa bertahan sampai sekian lama, ya.
[Silakan baca:
7 Makanan dan Minuman Unik di #QravedHype]
Selain pempek, di tempat yang sama juga ada rujak jangkung dan bakmi
Megaria. Suami pesan bakmi tapi saya lupa bagaimana rasa bakminya.
Pengunjung juga banyak yang beli rujak. Deretan buah yang ada di lemari
kaca nyaris kosong. Sepertinya rujak memang salah satu menu yang tidak
ada matinya. Bahkan saat malam hari pun masih banyak juga yang pesan
rujak ulek. Kalau saya memang gak suka rujak, jadinya tidak tertarik
untuk pesan.

Tulisannya agak tertutup, makanya saya sempat gak tau kalau lokasinya
udah pindah ke seberang

Ternyata ayam bakarnya pindah ke seberang. Begini nih kalau perut udah
lapar, suasana ramai, akhirnya udah puyeng duluan 😂



Gak mungkin juga saya pesan ayam bakar untuk dimakan saat itu. 1 porsi
pempek kapal selam aja udah bikin saya kenyang. Ukurannya lumayan besar.
Tapi, karena saya kangen berat dengan ayam bakarnya, pesan aja deh buat
dibawa pulang. Tentunya dengan somay dan es teler juga.
Selesai makan, Keke dan Nai pengen ke Starbucks dulu yang lokasinya di
samping bioskop. Hmmm… anak-anak millenial nih. Sekarang mainannya
Starbucks. Jadi harus mampir baru deh pulang hehehe
Kawasan Megaria memang masih menyisakan beberapa kenangan karena
bangunan dan beberapa kulinernya masih tetap ada. Tetapi, saat ini sudah
murni kawasan bisnis. Sudah tidak ada lagi perumahan. Sepertinya tidak
ada lagi anak-anak yang setiap sore main bola. Saya termasuk yang pernah
ikutan. Paling seru kalau udah sambil hujan-hujanan hehehe. Nungguin
tukang somay sepeda yang lewat tiap sore. Enak lho somaynya. Sekarang
kalau ke sini paling kalau mau nonton atau nongkrong.

Kawasan Kuliner Megaria
Jalan Pegangsaan No. 21, RT.1/RW.1
Pegangsaan, Menteng
Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.