Popia Tiam, Cafe 2D di Bandung -Ini cerita tentang jalan-jalan KeNai di
tahun 2020. Tepatnya tanggal 1 Januari gitu. Kabarnya kafe unik 2D ini
udah gak ada. Pandemi membuatnya gak bisa bertahan. Hiks! Tapi, saya
tetap tulis aja, ya. Sebagai bagian dari catatan Jalan-Jalan
KeNai.
tahun 2020. Tepatnya tanggal 1 Januari gitu. Kabarnya kafe unik 2D ini
udah gak ada. Pandemi membuatnya gak bisa bertahan. Hiks! Tapi, saya
tetap tulis aja, ya. Sebagai bagian dari catatan Jalan-Jalan
KeNai.

Namanya Popia Tiam, cafe 2D di Bandung. Saya sempat maju-mundur mau
ajak suami dan anak-anak ke sini. Karena baca beberapa review, tempatnya
selalu rame. Kami sekeluarga memang gak begitu menyukai tempat makan
yang harus antre lama. Mendingan cari resto lain. Tapi, masalahnya
saya gemes banget lihat kafenya. Berasa kayak di dunia kartun gitu
hehehe.
ajak suami dan anak-anak ke sini. Karena baca beberapa review, tempatnya
selalu rame. Kami sekeluarga memang gak begitu menyukai tempat makan
yang harus antre lama. Mendingan cari resto lain. Tapi, masalahnya
saya gemes banget lihat kafenya. Berasa kayak di dunia kartun gitu
hehehe.
Setahu saya kafe 2D, saat itu baru ada di Bandung. Makanya mumpung kami
lagi liburan, jadinya ngebujuk suami dan anak-anak untuk makan siang di
Popia Tiam. Saya pikir, masih suasana tahun baru banget. Berharap
cafenya gak ramai karena orang-orang masih pada di rumah. Masih pada
kecapean abis tahun baruan.
lagi liburan, jadinya ngebujuk suami dan anak-anak untuk makan siang di
Popia Tiam. Saya pikir, masih suasana tahun baru banget. Berharap
cafenya gak ramai karena orang-orang masih pada di rumah. Masih pada
kecapean abis tahun baruan.
Eh, gak taunya jam makan siang tetap rame, dong! Kami harus ambil nomor
antrean dulu. Salah prediksi nih saya hehehe.
antrean dulu. Salah prediksi nih saya hehehe.

Kami memilih menunggu di mobil. Gerah juga kalau kelamaan menunggu di
luar.
luar.
Ya udah deh karena saking pengennya makan di Popia Tiam, kami pun
menunggu. Kami pikir gak bakal kelamaan juga karena daftar tunggunya gak
panjang. Ternyata lagi-lagi saya salah prediksi. Lama banget, uy!
menunggu. Kami pikir gak bakal kelamaan juga karena daftar tunggunya gak
panjang. Ternyata lagi-lagi saya salah prediksi. Lama banget, uy!
Kafenya memang instagramable. Tapi, gak semua yang lama makan di sana
tuh karena foto-foto. Seperti salah satu rombongan pelanggan yang
sebelumnya duduk di meja kami. Mereka gak asik berfoto, tapi ngobrolnya
lama banget. Padahal saya perhatiin udah gak ada lagi yang dipesan.
Semua makanan dan minuman udah tandas dinikmati. Tapi, gak juga beranjak
untuk bayar dan meninggalkan meja.
tuh karena foto-foto. Seperti salah satu rombongan pelanggan yang
sebelumnya duduk di meja kami. Mereka gak asik berfoto, tapi ngobrolnya
lama banget. Padahal saya perhatiin udah gak ada lagi yang dipesan.
Semua makanan dan minuman udah tandas dinikmati. Tapi, gak juga beranjak
untuk bayar dan meninggalkan meja.

Karena kelamaan menunggu, anak-anak dan suami pun mulai kelihatan bete,
saya memustukan untuk membatalkan reservasi. Gak mau sampai kejadian
lagi kayak waktu makan di Kedai Kita, Bogor. Makanannya memang enak
semua, tetapi saking kelamaan menunggu jadi penuh drama.
saya memustukan untuk membatalkan reservasi. Gak mau sampai kejadian
lagi kayak waktu makan di Kedai Kita, Bogor. Makanannya memang enak
semua, tetapi saking kelamaan menunggu jadi penuh drama.
[Silakan baca:
Drama Kedai Kita, Bogor]
Drama Kedai Kita, Bogor]
“Mbak, masih lama antrenya? Kalau masih lama, saya batalkan aja,
ya.”
ya.”
Saya pun ditanya nomor antrean untuk dicek di buku catatan. Terlihat
harusnya giliran kami kalau ada meja kosong. Eh, pas bener pelanggan
yang dari tadi saya perhatiin asik ngobrol pun selesai. Saya pun ditanya
mau jadi dibatalin atau enggak. Ya, karena udah gak perlu menunggu, saya
pun bersedia. Daripada cari-cari rumah makan lagi.
harusnya giliran kami kalau ada meja kosong. Eh, pas bener pelanggan
yang dari tadi saya perhatiin asik ngobrol pun selesai. Saya pun ditanya
mau jadi dibatalin atau enggak. Ya, karena udah gak perlu menunggu, saya
pun bersedia. Daripada cari-cari rumah makan lagi.

Foto-foto dulu sambil menunggu pesanan kami datang
Kami memilih menu dengan cepat. Sambil menunggu makanan datang, saya
berfoto-foto. Popia Tiam tuh gak luas kafenya. Hanya di ruko kecil. Jadi
kalau memang mau foto di semua sudut kayaknya cukup banget deh sambil
menunggu makanan datang. Saya juga sempat naik ke lantai atas untuk
lihat suasananya sekaligus ke toilet.
berfoto-foto. Popia Tiam tuh gak luas kafenya. Hanya di ruko kecil. Jadi
kalau memang mau foto di semua sudut kayaknya cukup banget deh sambil
menunggu makanan datang. Saya juga sempat naik ke lantai atas untuk
lihat suasananya sekaligus ke toilet.


Popia Tiam terdiri dari 2 lantai. Sebetulnya saya inginnya di lantai 2.
Tapi, karena antreannya panjang jadinya gak bisa bebas memilih.
Tapi, karena antreannya panjang jadinya gak bisa bebas memilih.
Lebih suka lantai atas karena areanya lebih tertutup. Hanya ada ruangan
untuk makan. Sedangkan di lantai bawah terbuka. Dapurnya di paling
depan, kayak open kitchen gitu. Memang, sih, pakai AC. Tapi, gak berasa
dingin. Sekadar adem aja. Ya, setidaknya gak keringetan, deh.
untuk makan. Sedangkan di lantai bawah terbuka. Dapurnya di paling
depan, kayak open kitchen gitu. Memang, sih, pakai AC. Tapi, gak berasa
dingin. Sekadar adem aja. Ya, setidaknya gak keringetan, deh.

Bakmi Bbq (pesanan suami), IDR9,9K
Rasa makanannya enak. Harganya juga masih termasuk gak mahal, tapi
porsinya sedikit. Kalau untuk saya cukup aja. Gak kekenyangan, gak
kurang juga. Karena memang lagi mengurangi porsi makan, terutama
karbo.
porsinya sedikit. Kalau untuk saya cukup aja. Gak kekenyangan, gak
kurang juga. Karena memang lagi mengurangi porsi makan, terutama
karbo.
Tapi, kalau untuk Keke dan ayahnya sebetulnya kurang. Paling gak harus
pesan 2 porsi. Hanya karena mereka udah agak down moodnya karena
kelamaan nunggu. Jadi, mereka menolak ketika ditawarin nambah lagi.
pesan 2 porsi. Hanya karena mereka udah agak down moodnya karena
kelamaan nunggu. Jadi, mereka menolak ketika ditawarin nambah lagi.

Kiri atas: Chicken Garlic, IDR22K
Kiri Bawah: Udang Bbq, IDR39K
Kanan: Popia Singapore, IDR9,9K
Nasi Putih (Gak kefoto), IDR5K
Saya dan Nai memilih Popia Singapore. Dari beberapa review yang saya
baca, banyak yang merekomendasikan menu ini. Ini tuh semacam lumpia
basah. Keke memesan Chicken Garlic dan Udang Bbq. Untuk pesanan Keke
belum termasuk nasi, ya.
baca, banyak yang merekomendasikan menu ini. Ini tuh semacam lumpia
basah. Keke memesan Chicken Garlic dan Udang Bbq. Untuk pesanan Keke
belum termasuk nasi, ya.

Aneka saus untuk Popia Singapore
Penyajiannya cukup unik karena kulit popia dan isiannya dipisah. Jadi
kita yang nanti ngegulung sendiri. Harganya dijual per satuan atau per
lembar kulit popia. Sudah tumis sayur, daun selada, dan cacahan kacang
mede. Kalau mau ditambah dengan topin lain juga bisa. Dijualnya
terpisah. Ada beberapa saus yang disediakan di meja. Seingat saya ada
mayo dan saus kacang. Lupa yang 2 botol lagi saus apa hehehe.
kita yang nanti ngegulung sendiri. Harganya dijual per satuan atau per
lembar kulit popia. Sudah tumis sayur, daun selada, dan cacahan kacang
mede. Kalau mau ditambah dengan topin lain juga bisa. Dijualnya
terpisah. Ada beberapa saus yang disediakan di meja. Seingat saya ada
mayo dan saus kacang. Lupa yang 2 botol lagi saus apa hehehe.

Es Sarang Burung, IDR 18,5K
Setidaknya tuntas deh rasa penasaran ke Popia Tiam. Sesekali kulineran
di tempat yang lagi kekinian. Tapi, kayaknya tetap gak pengen
sering-sering. Karena kami memang gak begitu suka harus antre untuk
makan. Ke kondangan aja biasanya cari pondokan yang agak sepi
hahaha!
di tempat yang lagi kekinian. Tapi, kayaknya tetap gak pengen
sering-sering. Karena kami memang gak begitu suka harus antre untuk
makan. Ke kondangan aja biasanya cari pondokan yang agak sepi
hahaha!
Kulineran kami ke Popia Tiam juga menandakan terakhir kalinya kami ke
Bandung. Gak pernah menyangka aja kalau gak lama setelah itu COVID-19
masuk ke Indonesia. Kami pun gak pernah ke mana-mana. Paling gak setahun
di awal bener-bener di rumah. Paling ke pasar atau minimarket aja.
Bandung. Gak pernah menyangka aja kalau gak lama setelah itu COVID-19
masuk ke Indonesia. Kami pun gak pernah ke mana-mana. Paling gak setahun
di awal bener-bener di rumah. Paling ke pasar atau minimarket aja.

Lychee Tea Iced, IDR16,5K
Lychee Spring, IDR18,5K
Sekalinya ke Bandung di awal tahun 2022. Itu karena tante saya wafat.
Kami ngelayat dan gak menginap karena alasan masih pandemi. Padahal
termasuk keluarga dekat. Tapi, ya, mau gak mau tetap harus berhati-hati.
Apalagi ajak mamah yang udah sepuh. Risikonya masih lumayan tinggi di
saat itu.
Kami ngelayat dan gak menginap karena alasan masih pandemi. Padahal
termasuk keluarga dekat. Tapi, ya, mau gak mau tetap harus berhati-hati.
Apalagi ajak mamah yang udah sepuh. Risikonya masih lumayan tinggi di
saat itu.
[Silakan baca:
Sarapan di Bubur Ayam Bejo Kosambi, Bandung]
Kabar terakhir, Popia Tiam udah gak ada. Baca komen-komen netizen ada
yang bilang akibat pandemi. Sekarang udah ditempatin sama tukang
sate.
yang bilang akibat pandemi. Sekarang udah ditempatin sama tukang
sate.
Agak sedih juga ya kalau ada usaha yang tergulung karena pandemi.
Tetapi, tanpa pandemi pun, resto kekinian memang berisiko cepat usai.
Kecuali, ada hal yang terus bisa menarik pelanggan untuk berkunjung.
Tetapi, tanpa pandemi pun, resto kekinian memang berisiko cepat usai.
Kecuali, ada hal yang terus bisa menarik pelanggan untuk berkunjung.


, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.