Cerita

Cerita Seks Bertukar Mama

Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu ke mana perginya Ronald tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Ronald sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara ngentot dengan mamaku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan mamaku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa perbuatannya dengan mamaku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa menikmati memeknya mama. Aku juga ingin ngentot dengan mamanya Ronald yang bodi dan keseksiannya sama dengan mamaku. Jadi, aku harus membina keakraban dengan Ronald. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Ronald.

Belakangan, sejak mengetahui antara mama dan Ronald ada hubungan khusus, aku sering memberikan kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Ronald main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka.

Padahal, aku malah ke rumah 
Ronald dengan berpura-pura pada mamanya hendak menemui dia. Hingga belakangan ini, hubunganku dengan mamanya Ronald makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Ronald di rumahku.

Seperti sore, di saat 
Ronald main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumahnya Ronald. 


“Halo Ren. Ayo, sini masuk,” kata mamanya Ronald.

Saat membukakan pintu,
mamanya Ronald ternyata habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya.

Sementara toketnya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya. Seperti mamaku, 
mamanya Ronald juga berbodi tinggi besar. Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang seksi. Tapi, kulitnya Tante Veni (nama mamanya Ronald) agak sedikit gelap.

Semua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada paha dan dadanya yang menyembul, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang.

Bagaimana tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan pantat besarnya kini benar-benar terpampang di hadapanku. Aku juga bisa melihat memeknya yang mengintip di antara pangkal pahanya. Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit.

Ah, ingin rasanya meremas pantat besar yang montok itu, atau mengelus memeknya yang gundul itu. Kalau Ronald, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang dia inginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.

“Eh Ren, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.

“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas.

Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Veni tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dia sekarang telanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas. Tante Veni santai memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya pantatnya yang besar membusung. Buah dada Tante Veni juga besar dan kencang. Putingnya yang berwarna coklat, terlihat mencuat. Ah, ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Ronald pada toket mamaku.

Sebenarnya, aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Veni secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Ronald, tubuh mamanya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari, Tante Veni berbalik dan memergokiku tengah menatap tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku.

Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya. Meskipun mamanya Ronald memiliki usaha toko perhiasan, ia masih menjalankan usaha tercela.

Dia meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau bekerja sebagai rentenir. Kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dia lakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Veni ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Veni terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling.

Karena takut terjatuh, Tante Veni membonceng dengan memeluk erat tubuhku. Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Veni menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya.

Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Veni segera mengingatkannya.

“Ren, karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Veni saat hampir sampai rumah.

“Pertanyaan apa Tan?” tanyaku.

“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang, kan?” tanyanya, berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menjawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani, takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Veni meraba bagian depan celana dan meraba kontolku yang telah tegang mengacung. 

“Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan toket tante yang menempel di punggungmu kan?” ucap tante Veni.

“I..i.. iya tan,” kataku, akhirnya menyerah.

“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Ronald belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus kontolku.

Penawaran mamanya Ronald adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Ronald belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Veni untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh mamaku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Ronald belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu.

“Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya. Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Veni seperti yang diperintahkannya.

Tidak seperti Ronald yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan mamaku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi mamaku maupun mamanya Ronald. Hingga aku hanya duduk merenung di ruang tamu, menunggu panggilan Tante Veni.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Veni sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. 

“Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Veni kini benar-benar terpampang di hadapanku.

Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggoda, licin tanpa rambut, sama seperti memek mamaku.

Sama seperti mamaku, perutnya Tante Veni rata dan masih kencang. Buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol, nampak lebih besar ketimbang milik mamaku. Mama temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit kemaluannya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Veni. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. 

“Ayo Ren, pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Veni, melihat keraguanku.

Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu. Permukaannya halus. Di bagian belahannya, daging kenyalnya itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Veni yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek mama temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Veni berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa.

Untungnya, Tante Veni langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk. Dengan posisinya itu, memek mamanya Ronald jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir kemaluannya tampak terbuka lebar.

Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat.

“Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Ren. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Veni.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Veni pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari lubang memek mamanya Ronald. Bau yang asing tapi membuatku makin terangsang.

Aku jadi ingat segala yang dilakukan Ronald pada memek mamaku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir kemaluannya langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang nikmat Tante Veni.

Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Veni mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang kemaluannya.

“Ahh… sshh … aahh enak banget Ren. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Veni mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Veni tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. 

“Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Ren,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Veni dengan mulut dan lidahku. Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan memeknya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. 

“Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.

”Wow… kontol kamu gede banget Ren! Keras lagi,” seru Tante Veni saat melihat kontolku telah terbebas dari pembungkusnya.

Dibelai dan di elus-elusnya kontolku sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran kontolku. Dia lalu duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar kemaluannya.

Tante Veni yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu kontolku diarahkan ke lubang memeknya. 

“Dorong dan masukkan Ren kontolmu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,” ucapnya.

Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk kontolku ke lubang memeknya. 

“Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Ren. Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Veni. 

Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali kontolku namun dicegah olehnya. 

“Jangan sayang! Jangan ditarik! Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Veni yang terlihat menikmati sodokan kontolku di memeknya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika kontolku mulai aku keluarmasukkan ke dalam lubang nikmat itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Veni secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding memek Tante Veni seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Terus Ren ,.. uh… uhh… kontolmu enak banget. Gede dan marem banget. Ah iya Ren, terus sogok memek Tante sayang. Ah,.. ahh… ahhhh,” Tante Veni mengerang nikmat.

Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi kontolku. Melihat itu sodokan kontolku pada lubang nikmat wanita itu kian bersemangat.

“Memek Tante nggak enak ya Ren? Kok dilihatin begitu?” tanya Tante Veni. 

Rupanya ia memperhatikan ulahku.

“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Memek tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku.

“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin tante terus. Tante juga suka banget kontol kamu. Ahhh sshhh… aakkhhh… enakk bangat sayang. Ohhh terus Ren, ayo sayang sogok terus. Ahhh… ahh …ah,”

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Veniyang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas toketnya yang berukuran besar itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Veni kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan kontolku di memeknya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding memeknya pada kemaluanku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang kontolku serasa digerus dan dihisap. 

“Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Memek tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”

“Tahan Ren, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… kontol kamu enak banget Ren. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan pantat Tante Veni kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam memek mama temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. 

“Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”

Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Veni berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras kontolku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. 

“Tante juga nyampai Ren. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Ren,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.

Tante Veni menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. 

“Tante sangat puas Ren. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.

Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Veni mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi lubang memeknya dan membuat lemas sendi-sendiku.

Namun, berkali-kali pula Tante Veni mengerang dan merintih oleh sogokan kontolku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top