
Golden Sunrise di Sikunir
anak-anak bergegas menghampiri. Lumayan lama juga kami menunggu.
Perjalanan dari terminal Dieng dan sebaliknya memang
terlihat macet sekali. Sangat berbeda dengan sehari sebelumnya saat kami
akan melakukan pendakian. Jalanan masih terasa cukup lengang saat itu.
Setelah semua barang masuk mobil, kami pun berpamitan dengan mas Ivan.
Perjalanan kami selanjutnya menuju desa Sembungan untuk melihat golden
sunrise Sikunir.
[Silakan baca:
Sunrise di Gunung Prau dan Turun Gunung via Jalur Dieng]
Makan Malam di Desa Sembungan
Dari terminal Dieng menuju desa Sembungan sebetulnya gak terlalu jauh.
Tapi, kami sempat berputar-putar karena nyasar. Mengandalkan GPS juga
tumben gak berhasil. Tetap nyasar dan akhirnya bertanya dengan penduduk
sekitar, deh.
Tips: Jangan mendadak kalau ingin mencari homestay di Sikunir
Kami termasuk yang rada mendadak ketika mulai mencari homestay.
Kebiasaan menunda-nunda hehehe. Selain itu, kami sempat berusaha mencari
sendiri dulu. Tapi, berkali-kali googling nomor telpon berbagai homestay
di Sikunir, sepertinya gak ada satupun nomor telepon yang langsung ke
homestay yang dituju. Semua nomor telpon perantara.
Karena gak juga dapat nomor telpon homestay, barulah saya minta tolong
Idah Ceris, blogger asal Banjarnegara. Rada mepet minta tolongnya.
Untung masih dapat homestay. Meskipun homestay yang kami inginkan sudah
full tapi dapat homestay lain yang nyaman juga. Waktu itu saya pesan ke
Idah minta tolong cariin homestay yang bisa masuk mobil dan kamar mandi
di dalam dengan fasilitas water heater.

bertingkat tepat di seberangnya. Harga kamar per malam, IDR300K. Ada
sih yang seharga IDR250K, tapi kamar mandi di luar. Kalau kamar yang
lebih besar, saya kurang tau berapa harga per malamnya.
Kami tiba di
Sikunir
menjelang maghrib. Kamar yang kami tempati tidak terlalu besar. Hanya
muat 1 kasur berukuran king size dengan menyisakan sedikit space untuk
meletakkan tas. Tepat di depan homestay, ada masjid. Jadi, kalau mau
sholat tinggal nyebrang aja. Di homestay ini juga ada kamar lain yang
lebih luas. Kalau bawa keluarga besar sepertinya bisa menyewa kamar yang
lebih luas itu. Lumayan bisa banyak masuknya.
Tidur, mandi, atau makan dulu, ya? Ketiganya menggoda di saat bersamaan.
Kasur empuk dengan selimut yang tebal benar-benar nyaman buat
beristirahat. Tapi, rasanya pengen banget bebersih badan. Sejak
berangkat, kami belum mandi hehehe. Perut juga mulai protes karena belum
diisi sejak siang.

Kami pun memutuskan lebih baik makan malam dulu. Di desa Sembungan
tidak banyak penjual makanan, malah kayaknya kami hanya menemukan 1
tempat saja. Tidak juga menawarkan banyak pilihan menu, hanya nasi
goreng dan ayam goreng. Kami memesan 4 porsi nasi goreng dan 2 potong
ayam goreng. Lokasinya tidak jauh dari homestay. Cukup jalan kaki, 5
menit saja sudah sampai.
Saat kami makan malam, di luar masih ramai. Tidak hanya karena banyaknya
pengunjung ke desa tersebut. Tapi penduduknya juga masih beraktivitas.
Beberapa anak kecil terlihat berlarian ke sana-kemari menuju masjid
sekitar. Seneng lihatnya, deh.
“Tapi, nunggu ya, Bu. Lagi banyak yang beli,” kata ibu penjual nasi
goreng sambil menggoreng nasi.
Lumayan lama juga kami menunggu hidangan disajikan. Pembelinya pada
malam itu sebetulnya gak banyak juga. Tapi ibunya lupa kalau kami sudah
pesan dari tadi. Eyaampuuunn…! Kami pun ngakak setelah ibunya bilang
lupa hehehe
Seporsi nasi goreng seharga 13 ribu rupiah dan ayam goreng seharga 16
ribu rupiah. Menurut Sabahat KeNai termasuk mahal, gak? Hmmm… Mahal
atau murah memang relatif, ya. Tapi, kalau menurut kami harganya gak
beda sama harga nasi goreng dok dok yang biasa kami beli di rumah.
Padahal dalam pikiran kami kalau di Jawa Tengah dan sekitarnya biasanya
lebih murah harga makanan dan miumannya. Ternyata sama aja.

Setelah makan, kami langsung kembali ke homestay. Di depan homestay,
saya melihat mobil yang di dalamnya ada beberapa perempuan muda sedang
menanyakan penginapan yang kosong. Dari hasil menguping, rupanya mereka
sedang bingung karena gak ada satupun homestay yang kosong. Tuh, jangan
mepet kalau mau pesan kamar di desa Sembungan, ya.
Di luar desa Sembungan juga ada beberapa homestay. Tetapi, karena
Sikunir berada di Desa Sembungan, memang paling nikmat mencari
homestay di sini.
Perut udah kenyang, saatnya bebersih badan. Enak banget, deh, mandi air
hangat setelah hampir 2 hari gak mandi hihihi. Tapi, begitu keluar dari
kamar mandi langsung berasa dingiiiiinnn … Buru-buru naik ke kasur dan
selimutan. Brrrr ….
Kami hanya menyewa 1 kamar saja. Dempet-dempetan berempat di 1 kasur
ukuran king size. Tapi, jadinya hangat. Kalau badan cape begini, gak
berasa sempit. Begitu rebahan di kasur langsung tidur dengan nyenyak.
Kalau gak pasang alarm kayak udah bablas kesiangan.
Macet di Sikunir
Diperkirakan sampai puncak Sikunir sekitar 45 menit dengan kecepatan
normal. Bukan yang kura-kura kayak saya hahaha. Tapi, kata suami setelah
adzan subuh aja. Suami sangat yakin masih bisa mengejar sunrise setelah
subuh karena lokasi homestay yang lumayan dekat dengan pintu masuk
Sikunir.
Ada 3 alternatif menuju pintu masuk Sikunir yaitu menggunakan kendaraan
pribadi, naik ojek, atau jalan kaki. Membawa kendaraan pribadi sangat
tidak disarankan oleh penduduk di sana. Alasannya, parkiran udah penuh.
Bakal susah banget cari parkir. Kami pun memilih berjalan kaki.
Ketika suami memutuskan untuk berjalan kaki, saya sempat khawatir gak
bisa jalan. Masih inget aja waktu pertama kali naik gunung, keesokannya
saya ngesot karena kaki rasanya pegal banget hahaha. Tapi kali ini
alhamdulillah, gak berasa pegal sama sekali.
Enak juga berjalan kaki menuju pintu masuk Sikunir. Udaranya masih
terasa sangat segar dengan langit yang cerah terlihat bintang. Coba di
perkotaan kayak begitu, ya. Betah banget, deh. Cuma harus hati-hati aja
karena lumayan banyak ojek motor yang mondar-mandir mengantar
pengunjung.
Tips: Kalau memilih berjalan kaki, sebaiknya bawa senter. Penerangan
di dekat danau agak minim
Jalan menuju bukit Sikunir sudah aspal. Untuk Sahabat KeNai yang merasa
lapar atau haus, di area pintu masuk banyak penjual makanan dan minuman.
Bahkan terlihat beberapa bangunan permanen yang sedang dibangun.
Sepertinya, dengan makin banyaknya wisatawan yang ke sana, mulai
terlihat pembangunan di area bukit Sikunir.
Tips: Tetap gunakan alas kaki serta pakaian yang nyaman untuk kegiatan
outdoor karena begitu mulai mendaki, jalurnya sempit dan licin.
Maceeeett paraaahhh …

susah bergerak. Maceeett …
Ternyata di gunung atau bukit pun bisa macet bahkan macet parah. Bahkan
untuk pendaki kura-kura macam saya pun kemacetan ini ngeselin karena
sering banget berhenti. Jalur menuju uncak Sikunir itu sempit dan licin.
Sepanjang pendakian, saya berharap jangan sampai ada yang terpeleset.
Takut kayak efek domino gitu, satu jatuh trus yang lain juga.
Masalahnya, di pinggirnya jurang. Kan, bikin deg-degan banget.
Sekitar 2/3 pendakian ada tanah lapang. Para pengunjung banyak
menyebutnya puncak 1. Kami memilih cukup sampai di sini aja
pendakiannya. Itupun terpaksa berpencar saking ramenya pengunjung. Kalau
mau sampe puncak 2 masih harus mendaki sekali lagi. Tapi melihat
banyaknya yang mendaki dan langit yang mulai terlihat terang, mendingan
gak usah melanjutkan pendakian, deh. Gak bisa ngebayangin juga di atas
bakal serame apa kalau kayak gitu.
Baru juga saya dapat ruang untuk duduk, tau-tau ada seorang pengunjung
yang pingsan. Oleh warga setempat langsung digendong di punggung untuk
dibawa turun. Kelihatan sekali yang menggendong gerakannya lincah bagai
kancil. Menerobos pengunjung yang membludak kayak gitu.

membesar. Menakjubkan!
Walaupun gak sampe puncak, tapi sunrise di Sikunir tetap terlihat
sangat indah. Warnanya keemasan sehingga disebut golden sunrise. Pantas
saja dibilang golden sunrise. Beruntung sekali, saya diberi kesempatan
melihat salah satu maha karya Allah SWT ini. Alhamdulillah.
Saya gak langsung beranjak setelah matahari terbit. Sempat
ngobrol-ngobrol sejenak dengan sepasang orang tua di sebelah saya. Dari
ceritanya, mereka ternyata sudah mendaki Sikunir sehari sebelumnya. Tapi
puncak kepadatan terjadi saat itu sehingga mereka terpaksa turun lagi
saking padatnya. Wuiihhh! Perasaan saat aja udah macet banget.
Bener-bener gak ngebayangin sehari sebelumnya itu seperti apa
ramainya.
Mereka pun memutuskan kembali ke Semarang dan balik lagi ke Sikunir lagi
tengah malam. Tidur sejenak di parkiran pintu masuk Sikunir, kemudian
mulai mendaki sekitar pukul 2 dinihari supaya dapat spot foto yang
bagus. Wah pukul 2 mah kami masih tidur nyenyak, mereka udah mendaki
hahaha.

Setelah berpencar, saya menghampiri Nai dan ayahnya. Untung aja Keke
duluan yang nyamperin saya. Kalau gak, saya bakal bingung nyari dimana
suami dan anak-anak. Nai dan ayahnya gak ikut menikmati sunrise. Terlalu
penuh pengunjungnya sehingga memilih area di pojokan buat ngopi dan
sarapan pop mie.
Tips: Di atas bukit Sikunir ada beberapa penjual minuman hangat
seperti kopi, teh, dan lainnya juga mie instan. Tapi, kalau kami tetap
bawa sendiri. Biar gak jajan hahaha. Bahkan area untuk sholat pun
katanya sih ada (tapi saya gak tau di mana area untuk sholatnya)

Setelah ngopi dan sarapan, kami mengelilingi area sekitar. Tapi tetap
gak ingin naik ke puncak. Udah cukup lah ngos-ngosannya. Lagian, di area
itu aja pemandangannya udah indah banget, kok. Setelah puas foto-foto
dan terlihat mulai kosong, kami pun turun. Memang sengaja turun agak
siang untuk menghindari macet.
Ternyataaaaa…! Setelah beberapa menit berjalan, masih juga ketemu
macet. Mending nunggu lagi daripada ikutan macet. Itupun setelah lumayan
lama kami menunggu, masih juga macet. Akhirnya, kami memutuskan untuk
turun. Gak tau deh jam berapa itu macetnya terurai.

jurang. Jadi mending duduk manis aja dulu nunggu macet
terurai

🙂
Sarapan di Desa Sembungan
Desa Sembungan berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan
laut. Dengan ketinggian ini membuat desa Sembungan menjadi desa
tertinggi di pulau Jawa

sekelilingnya
Luas desa Sembungan hanya sekitar 37 ha. Mata pencaharian penduduknya
adalah petani. Sepanjang mata memandang banyak terdapat tanaman kentang
dan carica yang memang menjadi komoditi utama. Di desa ini juga ada
telaga yang dikenal dengan nama telaga cebongan. Disebut begitu karena
kalau dilihat dari atas bentuk telaganya seperti kecebong.
Gak dapat homestay? Camping aja di pinggir telaga cebongan

saat saya dapatkan
Yup! Di pinggir telaga cebongan itu ada camp area. Makanya kami
sebetulnya gak begitu khawatir kalau sampe gak dapat penginapan. Kan,
udah bawa tenda jadi tinggal camping lagi aja. Kalau areanya penuh juga,
berarti tidur di mobil. Tapi, kalau bisa memang dapat penginapan. Biar
bisa mandi hehehe. Di camp area juga ada MCK, sih. Cuma kan paling enak
memang kamar mandi dalam. Bisa bebas berlama-lama mandi sampe puas.
[Silakan baca:
Melrimba Garden – Camping Diantara Hamparan Bunga]
Kami kesana pada awal Mei 2016. Ngobrol dengan penduduk sekitar dan
pengunjung, katanya waktu yang paling bagus itu sebetulnya bulan Juli –
Agustus. Saat musim kemarau dan suhu lagi dingin-dinginnya. Bisa dibawah
0 derajat. Di puncak suhu terdingin, tanaman terlihat membeku. Dan, itu
katanya cantik banget karena terlihat putih seperti es. Asal kuat aja
menghadapi dinginnya. Hmmm…., tapi sekarang Juli – Agustus aja masih
hujan terus, ya? Kira-kira di sana masih dingin banget gak, ya?

ini dibanding yang nasi goreng hehehe. Paling yang kurang adalah rasa
pedas. Karena semua lauknya agak kemanisan bagi lidah saya
Kami menyempatkan diri untuk sarapan di salah satu warung sederhana
dekat telaga. Warung yang benar-benar sederhana. Harga per porsinya pun
murah. Seingat saya gak lebih dari 20 ribu rupiah. Tapi, viewnya cakep
banget. Terlihat perkebunan dan sawah. Jarang-jarang kan lihat yang
kayak gitu.
Setelah kami kembali ke penginapan, langsung packing dan bebersih diri.
Borong carica dulu yang ternyata kurang banget karena pada suka. Padahal
perasaan udah beli banyak hehehe. Kebetulan homestay tempat kami
menginap juga buka toko oleh-oleh. Jadi, untuk kami yang tipe malas
mampir beli oleh-oleh, ini sangat memudahkan.
Beli beberapa oleh-oleh lain juga, termasuk beli mie ongklok, mie rebus
khas Wonosobo. Gak sempat makan langsung di sana. Jadi, kami beli yang
dalam bentuk kemasan. Setelah dicobain di rumah, kami kurang suka
rasanya yang terlalu manis. Termasuk untuk selera suami saya yang lebih
rasa manis dibandingkan saya. Kayaknya kalau makan mie ongklok lagi
harus dikasih sambal yang banyak 🙂

Carica, ada juga yang menyebutnya pepaya gunung. Penampakan carica
dari mulai daun, batang, hingga buah memang mirip pepaya. Disebut
pepaya gunung mungkin karena tidak bisa tumbuh di sembarang tempat.
Baru terlihat berbeda ketika carica dikupas, biji di dalamnya lebih
mirip seperti markisa. Carica juga gak bisa dikonsumsi langsung
seperti buah pepaya. Harus diolah terlebih dahulu karena kalau tidak
bisa menyebabkan bibir dan lidah menjadi gatal.
Sekitar pukul 11 siang, kami meninggalkan desa Sembungan. Perjalanan
menuju rumah lumayan lancar. Sempat makan siang (yang kesorean), kalau
gak salah di daerah Pemalang. Trus beli telor asin dulu di Brebes.
Sayangnya lagi gak musim bawang merah. Cuma ada 1 toko yang jual bawang
merah dan harganya lumayan tinggi. Sama aja kayak beli di pasar dekat
rumah. Lanjut makan malam lagi di jalan tol. Baru deh sampe rumah dan
langsung tidur nyenyak 😀
Alhamdulillah, badan gak terlalu pegal-pegal keesokan harinya. Cuma
males aja ngelihat pakaian kotor yang menumpuk hehehe

Cumi goreng tepung yang dingin dan masih berasa banget tepungnya. Sop
buntut yang biasa banget. Ikan gurame bakar yang teralu kuat rasa
jahenya. Ya, setidaknya perut kami terisi biar gak masuk angin karena
telat makan.

Enaaaakk 🙂

, Terimakasih telah mengunjungi Ulasani.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.