cerita dewasa, cerita hot, Cerita Mesum, Cerita seks, Cerita Sex, Cerita Sex Bokep, Cerita Sex Panas, Cerita Sex Tante, Kisah Mesum, Kisah Seks
Cerita Dewasa – Malam itu terlihat Risa sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian mesum yang dialaminya dengan Hardi dan Sigit. Risa takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain.
Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota selama 2 minggu, Risa yang memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi dokter kandungan, akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat praktek dokter kandungan, ia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Risa ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Risa tidak dapat menikmati sodokan-sodokan kontol-kontol perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.
“bu Risa,”
Risa mendengar namanya dipanggil.
“Yach, betul,” Risa menjawab, dan menengok kea rah suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.
“Sekarang giliran ibu,” kata suster tersebut, “mari ikut saya, bu.!!”
“Oh..yach,” jawab Risa, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.
Risa baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Risa menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.
“Dok, ini ibu Risa pasien terakhir kita malam ini,” Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu
Dalam hati Risa membatin,”masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng,” Risa memperkirakan dokter ini seumuran dia.
“Malam, dok,” Risa menyapa si dokter.
“Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??,” si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Risa duduk.
Sebelum sempat Risa menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata,” Dok, ibu Risakan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,”
“Oh..ok, “ jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Sebentar yach bu,” kata si dokter ke Risa, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.
Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Risa,” maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Risa-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang”
“Oh..gak apa-apa kok,” balas Risa
“Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu,” tanya si dokter.
“Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memakai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya,” Risa menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.
“Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak?” tanya sang dokter lagi.
“yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak, “ jawab Risa sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati kontol-kontol perkasa tanpa takut akan hamil.
“Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu??” si dokter memastikan.
“Hmmhh…betul,” Risa menjawab sambil tersenyum.
“Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya,” tanya sidokter.
“maksudnya??” Risa balik bertanya.
“Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami, sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satu pun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu,” jelas sang dokter panjang lebar.
“Ooohhh…begitu,” gumam Risa,” Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak”
“Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya,” kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.
“Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini” lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.
“wah, bu!! terbalik pakai jubahnya,” dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Risa mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.
“Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus,” lanjut sidokter sambil bercanda ke Risa.
“Ohhh…he..he..dokter bisa aja,” Risa tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian ia pun berbaring diranjang.
Risa bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Risa pun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.
Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Risa diatas ranjang, dokter itu pun tersenyum simpul,
“Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,” tanya sidokter tersenyum.
Tanpa menunggu jawaban Risa, sang dokter mulai mengangkat kaki Risa satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Risa itu, perbuatan sidokter membuat Risa terhenyak, Risa tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanya menjadi merah karena menahan malu, melihat Risa yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan dia pun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Risa ke dokter kandungan.
“Maaf, yach, Bu,” sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Risa.
“Hhmmmhh….,” Risa hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.
Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Risa dari sebelah atas, sehingga kelentit Risa tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong, agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Risa, sementara Risa merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Risa mulai bangkit, memeknya mulai basah.
“Ouugghhh…..ssshhhh,” Risa menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.
“Maaf..bu.!! sakit…!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya,” kata sidokter.
Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Risa yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, “gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,”, sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Risa dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Risa, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Risa yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut, belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Risa jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Risa sudah basah.
“Hhhhmmmm…sssshhhh….hhhmmmm…..ssshhhh..” Risa merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.
Mendengar lirihan Risa, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,”kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..”
Setelah melihat cengkraman dinding vagina Risa dialatnya mulai mengendur, dokter pun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit, karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Risa, setelah tepat disasaran, ia pun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Risa, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar, kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Risa, gesekan yang ditimbulkannya membuat Risa mengerang lirih.
Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Risa, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Risa, dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Risa sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya pun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.
“Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini,” Risa berkata dalam hatinya.
Tangan Risa yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya ia pun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya, Risa kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Risa telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Risa sedang menikmati semua itu.
Sang Dokter yang melihat aksi Risa melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Risa dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, “nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,”, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Risa yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja, tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Risa yang membuat Risa semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Risa, dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Risa semakin basah, erangan-erangan Risa pun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Risa betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.
“Ouughhhh….dddoookkk….eenaaaakkk…aakhhuuu…mau..kel luaarr…ssshhh…aagghhhh..”Risa merintih-rintih kenikmatan.
Ssssrr……ssssrrrr….ssssrrrr…… memek Risa memuntahkan lahar kenikmatannya.
Tubuh Risa mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Risa yang membasahi jari tangannya.
“Enak, Bu!!,” tanya sidokter.
“Iyaachh…”Risa menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.
Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokter pun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang ia pun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang, dia pun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Risa, membuat Risa menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokter pun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Risa, setelah merasa tepat disasaran sang dokter pun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Risa, setahap demi setahap.
Sleeepp….bleeessss….bleessss…..
kontol sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Risa, Risa yang merasakan kontol dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,”lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punya Suamiku”.
“Ssshhh….aaaaghhhh..dook…kontolmu besar juga…. sssshhhh….puaskan aku dengan kontolmu ssshhhh…”desis Risa.
Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Risa, kedua tangannya berpegangan dipaha Risa, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka, udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Risa dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.
“Ouughhh…dookkk…teeruusss…ssood…..dokkk .memekkuuuu…dengaaannn konttolmu..ituuu… aaaggghhhh…” Risa mengerang kenikmatan menikmati sodokan kontol sang dokter di lubang senggamanya.
“Hhhhmmmm…aaaaghhh…memekmuuu…benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk… oouughhh … koontooolllkuuu…teerjeppiitt…bbeetulll… “ Sang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Risa dibatang kontolnya..
“Teekkaaannn…lebih daaalllaamm…dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhh…oouughhh…,” rintih Risa meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.
Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Risapun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan kontol sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.
“Ouughhh…doookkk…aaaakkkkuuu…kkeeelluuarrr,” Risa mengerang tubuhnya melenting.
“Akkkhhuuu…juuggaaa…mmaaauuu….ooouugghhhh..” sang dokter pun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Risa, lalu terdiam.
Creeetttt…..ssssrrrr…..ccrreeeettt…..ssssrrrr…..
Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Risa dan ia juga merasakan dinding vagina Risa berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Risa sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Risa sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang kontol sang dokter berdenyut-denyut.
Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Risa setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Risa berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Risa, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Risa mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.
Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Risa bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Risa mengangguk tanda mengerti dalam hati Risa berkata ,”pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,”
Sebelum pulang Risa bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Risa, gratis!!! bisiknya. Risa pun pulang dengan tersenyum, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun.